Kemendikdasmen Dukung Praktik Baik Penguatan Logika Berpikir Murid di Kudus Diperluas

Kemendikdasmen Dukung Praktik Baik Penguatan Logika Berpikir Murid di Kudus Diperluas

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 21 September 2026 - 17:25
share

Penguatan keterampilan berpikir murid kian menjadi perhatian bagi pemangku kepentingan, guru, dan orang tua. Di Kabupaten Kudus, pembangunan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah bagi murid ini didorong, salah satunya melalui penerapan berpikir komputasional di tingkat PAUD, sejak 2023.

Djarum Foundation menginisiasi penguatan kompetensi guru, serta penerapan pembelajaran mendalam bagi murid, dengan keterlibatan orang tua.

Baca juga: OSN 2026 Resmi Ditutup, DKI Jakarta Raih Juara Umum

Hadirnya Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI, yang dipadukan dengan literasi fisik, pun menjadi ruang untuk menstimulasi kapasitas murid sekaligus mendorong mereka untuk bergerak aktif.

Kemendikdasmen pun mendorong agar praktik baik yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini untuk ditularkan ke tempat-tempat lain.Sebagai keterampilan seumur hidup yang dibutuhkan pada abad ke-21, lembaga internasional seperti Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) merekomendasikan penerapan berpikir komputasional, sejak murid mulai mengembangkan keterampilan dasar dan numerasinya. Pasalnya, berpikir komputasional berdampak positif terhadap pemahaman murid terkait proses penyelesaian masalah secara menyeluruh.

Melalui pembiasaan dalam pembelajaran, murid belajar tentang struktur dan penalaran masalah secara kontekstual dalam aktivitas sehari-hari, yang pada akhirnya turut berdampak pada peningkatan kapasitas literasi dan numerasi mereka.

“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM. Praktik baik (untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival) yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” kata Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto, melalui siaran pers, Senin (21/9/2026).

Hingga kini pelatihan sudah menjangkau 46 PAUD/RA, 22 SD/MI, melibatkan 1.111 guru, 23.356 murid yang terlibat praktik berpikir komputasional menggunakan berbagai sarana seperti kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, dan aktivitas gerak.

Adapun perkembangan kemampuan murid selama program pelatihan pun diukur melalui tantangan BEBRAS, inisiatif internasional dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mengasah kemampuan berpikir komputasional dan pemecahan masalah. Rata-rata skor murid pun meningkat dari 34,52 menjadi 88,34, yang mengindikasikan korelasi positif antara penerapan berpikir komputasional dan kemampuan murid.

Kreativitas Guru dalam Implementasi Berpikir Komputasional

Di sejumlah sekolah di Kabupaten Kudus, berpikir komputasional diterapkan secara kreatif, melalui sejumlah aktivitas sederhana yang diinisiasi Guru. Adapun berbagai aktivitas itu dirancang untuk memenuhi prinsip berpikir komputasional, yang meliputi dekomposisi (memecah masalah kompleks menjadi bagian yang lebih kecil), pengenalan pola, abstraksi (dengan memilih informasi yang relevan), serta algoritma (untuk menyusun langkah penyelesaian secara runtut).Di SD 3 Kalirejo misalnya, guru mengajak murid untuk menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah. Di SD Muhammadiyah Birrul Walidain, berpikir komputasional diintegrasikan ke dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) melalui kegiatan mengurai masalah, menemukan pola, dan mengelompokkan informasi pada topik sistem pernapasan.

Sementara itu, di SD 1 Barongan, guru menganalisis pola keterlambatan siswa untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan mencari solusi bersama.

Berbagai aktivitas ini sengaja mengombinasikan antara prinsip-prinsip berpikir komputasional dengan literasi fisik. Pasalnya, dalam survei keterampilan sosial emosional dari OECD di Kabupaten Kudus (2023), ditemukan bahwa 55 persen murid berusia 15 tahun di Kabupaten Kudus memiliki pola perilaku tidak sehat dengan jarang berolahraga, dan tidak makan buah, sayur hampir tiap hari.

“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri. Mencermati sejumlah riset yang menyebut korelasi antara berpikir komputasional dengan kapasitas murid, yang tercermin di standar PISA, kami harap dalam 10-15 tahun mendatang, kemampuan murid seluruh sekolah di Kudus dalam asesmen PISA mencapai standar kompetensi setara dengan rata-rata OECD, sekaligus memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan yang lebih tinggi daripada rata-rata,” ujar Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa.

Topik Menarik