Benarkah Main Game Bikin Otak Awet Muda? Ini Risetnya
Bermain game seringkali dipersepsikan negatif atau dianggap sebatas pembuang waktu. Namun, temuan ilmiah terbaru justru mengungkap fakta sebaliknya: hobi nge-game ternyata berpotensi menjaga performa otak tetap tajam dan awet muda.
Hal tersebut diungkapkan oleh dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata dalam unggahan di akun instagramnya. Ia menunjukkan sebuah riset bertajuk Characterizing the cognitive and mental health benefits of exercise and video game playing yang disusun oleh Sydni G. Paleczny, Conor J. Wild, Alex Xue, Roger Highfield, dan Adrian M. Owen.
Jurnal itu membeberkan korelasi menarik antara kebiasaan bermain game dan fungsi kognitif seseorang.Riset ini mengamati ribuan partisipan lintas negara untuk melihat sejauh mana aktivitas interaktif tersebut mempengaruhi performa otak mereka.
"Penelitian ini merekrut 2000 orang dari berbagai negara, kemudian dilihat kebiasaan bermain game-nya, lalu dibandingkan kemampuan kognitif otaknya," tulis dr. Adam, dikutip Kamis (17/9/2026).
Baca Juga : Riset Terbaru : Main Game Ternyata Tidak Rusak Kemampuan Kognitif AnakHasil analisis dari penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan kapasitas kognitif yang cukup signifikan antara gamer rutin dan non-gamer. Dimana, durasi lebih dari 5 jam seminggu menunjukkan performa kognitif 13,7 tahun lebih muda dibandingkan orang yang tidak rutin bermain game.
Sementara, durasi kurang dari 5 jam seminggu menunjukkan kemampuan kognitif 5 tahun lebih muda dibandingkan kelompok non-gamer. Efek "awet muda" ini mencakup beberapa fungsi vital otak yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari.
"Kemampuan kognitif otak yang menjadi awet muda pada orang yang rutin main game meliputi memori jangka pendek, kemampuan penalaran, kemampuan verbal, kecepatan memproses informasi," jelas dia.
Baca Juga : Keseringan Main HP Bisa Picu Migrain hingga Jari Bengkok
Meski hasilnya tampak menjanjikan bagi para pecinta game, dokter tersebut mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menyikapi temuan ini dan tidak serta-merta menjadikan game sebagai satu-satunya tolok ukur kesehatan otak.
“Tapi ingat, penelitian ini baru asosiasi ya levelnya, bukan sebab akibat. Masih mungkin ada faktor lain yang berpengaruh ke kemampuan kognitif, selain rutinitas main game," tegas dr. Adam.
Artinya, bermain game dapat menjadi salah satu sarana stimulasi mental yang menyenangkan, namun menjaga pola hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi kunci utama kesehatan fungsi otak dalam jangka panjang.









