Kisah Saba, Negeri Makmur yang Hancur karena Suap dan Korupsi

Kisah Saba, Negeri Makmur yang Hancur karena Suap dan Korupsi

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 8 September 2026 - 16:16
share

Negeri Saba merupakan salah satu peradaban yang dikisahkan dalam Al-Qur'an. Negeri yang berada di kawasan Yaman tersebut digambarkan pernah menikmati kemakmuran luar biasa, dengan sumber daya alam melimpah dan sistem pengelolaan air yang menjadi penopang kehidupan masyarakatnya.

Namun, kemakmuran tersebut pada akhirnya berbalik menjadi kehancuran. Al-Qur'an menjelaskan bahwa penduduk Saba berpaling dari nikmat Allah SWT dan tidak lagi bersyukur. Mereka kemudian ditimpa banjir besar yang menghancurkan kehidupan dan mengubah negeri yang sebelumnya subur menjadi kawasan yang tandus.

Kisah tersebut antara lain diabadikan dalam Surat Sabaayat 15-17.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

"Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'" (QS Saba: 15).

Baca juga:Mengapa Sebuah Negeri Bisa Hancur? Al Quran Ungkap 6 Penyebabnya

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana Allah SWT menganugerahkan berbagai kenikmatan kepada penduduk Saba. Mereka tinggal di sebuah negeri yang subur dengan hasil pertanian melimpah serta kehidupan yang sejahtera.

Dua kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri menjadi simbol kemakmuran negeri tersebut. Mereka diperintahkan untuk menikmati rezeki Allah sekaligus mensyukurinya.Dengan kondisi demikian, Negeri Saba semestinya menjadi contoh peradaban yang mampu menjaga kesejahteraan dan memanfaatkan nikmat Allah dengan baik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Negeri Makmur Menjadi Negeri yang Hancur

Allah SWT melanjutkan kisah tersebut dalam Surat Saba ayat 16:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl, dan sedikit pohon sidr."

Kata "fa a'radhu" dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa mereka berpaling. Setelah sebelumnya memperoleh berbagai kenikmatan, mereka justru tidak menjalankan kewajiban untuk bersyukur kepada Allah SWTAkibatnya, Allah mendatangkan Sailul 'Arim, yakni banjir besar yang menyebabkan perubahan drastis terhadap kehidupan Negeri Saba. Kebun-kebun yang sebelumnya subur dan menghasilkan berbagai buah berubah menjadi tanaman dengan hasil yang jauh lebih buruk.

Peristiwa tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah negeri yang sebelumnya berada dalam kemakmuran dapat mengalami kemunduran ketika manusia tidak mampu menjaga nikmat dan amanah yang diberikan Allah SWT.

Bendungan Menjadi Penopang Kemakmuran

Salah satu faktor penting yang menopang kehidupan masyarakat Saba adalah sistem pengelolaan air. Bendungan menjadi bagian penting dalam mengatur aliran air dan mendukung pertanian. Dengan pengelolaan tersebut, masyarakat dapat menikmati hasil bumi yang melimpah. Namun, ketika bendungan tersebut rusak dan banjir besar terjadi, sistem kehidupan yang selama ini menopang kemakmuran mereka ikut terganggu.

Al-Qur'an menggambarkan perubahan tersebut secara jelas. Negeri yang sebelumnya memiliki kebun-kebun subur akhirnya kehilangan sebagian besar kemakmurannya.

Kisah ini sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan sebuah peradaban harus diiringi dengan rasa syukur, tanggung jawab dan ketaatan kepada Allah SWT.

Kisah Ratu Bilqis dan Nabi Sulaiman

Kisah Negeri Saba juga berkaitan dengan Ratu Bilqis dan Nabi Sulaiman AS yang diceritakan dalam Surat An-Naml. Ketika Nabi Sulaiman AS mengetahui bahwa masyarakat Saba menyembah matahari, ia mengirimkan surat kepada Ratu Bilqis.

Allah SWT berfirman:

أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ"Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri."

Surat tersebut berisi seruan agar Ratu Bilqis dan kaumnya meninggalkan kesombongan serta tunduk kepada Allah SWT. Namun, sebelum mengambil keputusan, Ratu Bilqis meminta pertimbangan para pembesar di istananya.

Hadiah untuk Nabi Sulaiman

Dalam Surat An-Naml ayat 35, Ratu Bilqis mengatakan:

وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ

"Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, kemudian aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu."

Sebagian penjelasan tafsir memahami hadiah tersebut sebagai upaya untuk mengetahui sekaligus merespons tuntutan Nabi Sulaiman AS. Namun, Nabi Sulaiman tidak menjadikan harta sebagai ukuran dalam menerima kebenaran.

Ketika utusan Bilqis datang membawa hadiah, Nabi Sulaiman berkata sebagaimana diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 36:

أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

"Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Dia berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu."

Sikap Nabi Sulaiman menunjukkan bahwa kekayaan tidak boleh dijadikan alat untuk membeli kebenaran atau memengaruhi keputusan yang berkaitan dengan prinsip agama.

Ketika Kekuasaan Dikelilingi Para Pembesar

Al-Qur'an juga menggambarkan bagaimana Ratu Bilqis berkomunikasi dengan para pembesarnya. Dalam Surat An-Naml ayat 32-33, Bilqis meminta pertimbangan mengenai surat yang diterimanya dari Nabi Sulaiman.Para pembesar tersebut kemudian menyatakan bahwa mereka memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi peperangan. Namun, keputusan akhir tetap diserahkan kepada Bilqis.

Kisah ini memperlihatkan dinamika kekuasaan di Negeri Saba. Pada akhirnya, Bilqis tidak memilih jalan peperangan. Setelah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mendapat penjelasan dari Nabi Sulaiman, ia kemudian mengakui kebesaran Allah SWT.

Suap, Kekuasaan dan Pelajaran dari Negeri Saba

Kisah Saba memberikan banyak pelajaran mengenai bagaimana sebuah masyarakat seharusnya mengelola kekuasaan dan kemakmuran.

Praktik pemberian hadiah kepada penguasa memang terdapat dalam kisah Bilqis. Namun, menyebutnya secara langsung sebagai "suap" atau "gratifikasi" dalam pengertian hukum modern perlu ditempatkan secara hati-hati. Yang jelas, Nabi Sulaiman AS menolak hadiah tersebut dan tidak membiarkan harta memengaruhi sikapnya terhadap kebenaran.

Dalam konteks kehidupan sekarang, kisah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kekayaan tidak boleh digunakan untuk membeli pengaruh, mengubah keputusan atau menghalangi kebenaran.

Islam sendiri memberikan peringatan keras terhadap praktik suap. Rasulullah SAW bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

"Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Bahaya Penguasa yang Dikelilingi Pujian

Pelajaran lain yang dapat diambil adalah pentingnya nasihat yang jujur bagi seorang pemimpin. Seorang penguasa membutuhkan orang-orang yang mampu menyampaikan kebenaran, bukan sekadar memberikan pujian.

Jika orang-orang di sekitar kekuasaan hanya membenarkan semua keputusan pemimpin demi kepentingan pribadi, maka kesalahan dapat semakin besar dan sulit dikoreksi.

Dalam kisah Saba, para pembesar memang menunjukkan kesiapan menghadapi peperangan, tetapi Ratu Bilqis akhirnya mengambil keputusan yang lebih bijaksana dengan memilih jalan damai.Kisah tersebut memberikan gambaran bahwa kekuasaan membutuhkan pertimbangan yang matang dan tidak boleh semata-mata didorong oleh kesombongan atau ambisi.

Kemakmuran Adalah Ujian

Pada akhirnya, kisah Negeri Saba bukan hanya tentang sebuah bendungan yang jebol atau sebuah negeri yang dilanda banjir.

Ada pesan yang lebih besar tentang bagaimana manusia memperlakukan nikmat Allah SWT. Saba pernah menjadi negeri yang baik dan makmur. Allah memberikan tanah yang subur, hasil bumi melimpah dan sistem kehidupan yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Namun, ketika mereka berpaling dan tidak mensyukuri nikmat tersebut, keadaan berubah.

Allah SWT kemudian berfirman dalam Surat Saba ayat 17:

ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

"Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab melainkan kepada orang-orang yang sangat kafir."

Kisah Negeri Saba menjadi pengingat bahwa kemakmuran bukan hanya sebuah kenikmatan, tetapi juga ujian. Sebuah negeri tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, teknologi yang maju dan kekuatan ekonomi. Semua itu membutuhkan pengelolaan yang amanah, keadilan, rasa syukur dan tanggung jawab.

Al-Qur'an mengabadikan kisah Saba agar manusia tidak hanya mengagumi kejayaan sebuah peradaban, tetapi juga belajar dari kehancurannya.

Ketika nikmat tidak disyukuri, kekuasaan disalahgunakan dan kesombongan mengalahkan kebenaran, kemakmuran yang besar sekalipun dapat berubah menjadi awal sebuah kehancuran.

Baca juga:Tafsir Al-Isra Ayat 16: Ustaz Adi Hidayat Ungkap Peran Elite di Balik Kehancuran Negeri

Topik Menarik