Kisah Haru Anak 8 Tahun yang Begitu Merindukan Nabi Muhammad SAW hingga Wafat di Madinah
Kisah tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalamtidak hanya datang dari kalangan orang dewasa. Dalam sebuah riwayat yang dinukil dalam kisah Maulid Ad-Diba'i, diceritakan seorang anak berusia 8 tahun memiliki kerinduan yang begitu besar kepada Rasulullah SAW hingga membuat Syaikh Abdurrahman Ad-Diba'i menangis.
Syaikh Abdurrahman Ad-Diba'i merupakan ulama besar asal Yaman yang dikenal sebagai penyusun Maulid Ad-Diba'i. Nama lengkapnya adalah Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Al-Syaibani Al-Zubaidi Asy-Syafi'i.
Beliau lahir pada Muharram 866 Hijriah dan wafat pada Jumat, 12 Rajab 944 Hijriah. Syaikh Ad-Diba'i dikenal sebagai ulama yang memiliki tutur kata lembut, jujur, serta memiliki kecintaan besar kepada Rasulullah SAW.
Dalam kisah yang dinukil tersebut, Syaikh Ad-Diba'i bersama rombongan dari Zabid, Yaman, hendak melakukan perjalanan menuju Madinah untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Perjalanan itu disebut membutuhkan waktu sekitar dua pekan.
Saat rombongan hendak berangkat, tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun mendatangi Syaikh Ad-Diba'i.
"Wahai Syaikh, izinkan aku ikut berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW," pinta anak tersebut.Baca juga:11 Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Benarkah Dijauhkan dari Bala?
Namun, permintaan itu ditolak. Syaikh Ad-Diba'i khawatir perjalanan jauh tersebut justru akan menyulitkan rombongan karena harus membawa serta seorang anak kecil.
Sang ulama kemudian bertanya mengapa anak tersebut begitu ingin ikut dalam perjalanan.
"Wahai Syaikh, percayalah. Aku sangat merindukan Rasulullah SAW," jawabnya.
Meski demikian, Syaikh Ad-Diba'i tetap meminta anak tersebut tinggal di rumah. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah.
Sesampainya di Kota Madinah, tepat di sekitar makam Rasulullah SAW, Syaikh Ad-Diba'i justru dikejutkan oleh kehadiran anak tersebut.
"Wahai anak kecil, dari mana engkau datang? Bagaimana bisa sampai ke sini?" tanya Syaikh Ad-Diba'i.Anak itu kemudian menjawab bahwa ketika rombongan berangkat dari Yaman, dirinya bersembunyi di dalam sebuah peti dan ikut dalam perjalanan.
Syaikh Ad-Diba'i kembali bertanya bagaimana anak tersebut bisa bertahan selama perjalanan yang berlangsung sekitar dua pekan.
"Aku tidak heran engkau bisa masuk ke dalam peti. Tetapi selama dua minggu perjalanan, dari mana engkau makan dan minum?" tanya sang ulama.
Anak itu menjawab bahwa kerinduannya kepada Rasulullah SAW membuatnya tidak lagi memikirkan makan dan minum.
"Wahai Syaikh, aku seakan dilupakan dari makan dan minum karena begitu rindu kepada Rasulullah SAW," tuturnya.
Sesaat kemudian, anak itu bertanya kepada Syaikh Ad-Diba'i apakah tanah yang mereka pijak pernah diinjak oleh Rasulullah SAW.
Syaikh Ad-Diba'i menjawab bahwa tanah tersebut pernah dipijak oleh Nabi Muhammad SAW.Mendengar jawaban itu, anak tersebut mengambil tanah yang ada di hadapannya kemudian menciumnya. Tak lama kemudian, ia tiba-tiba terjatuh dan tampak seperti pingsan.
Namun, ternyata anak tersebut telah wafat.
Rombongan kemudian memakamkannya di luar Kota Madinah karena ia merupakan pendatang dari luar wilayah tersebut. Setelah itu, Syaikh Ad-Diba'i bersama rombongan melanjutkan perjalanan ibadah mereka.
Dalam perjalanan pulang, Syaikh Ad-Diba'i teringat kepada anak kecil tersebut. Ia kemudian mendatangi makamnya untuk berziarah.
Saat tiba di lokasi, Syaikh Ad-Diba'i disebut terkejut melihat makam anak itu. Dalam kisah yang dinukil tersebut, makam yang sebelumnya berada di luar Kota Madinah itu disebut berangsur-angsur bergeser mendekati makam Rasulullah SAW.
Pemandangan tersebut membuat Syaikh Ad-Diba'i menangis.
"Wahai anak kecil, betapa hebat dan mulianya engkau. Ketika masih hidup, engkau begitu rindu untuk berziarah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Setelah wafat pun, engkau masih menunjukkan kerinduan kepada Rasulullah SAW," demikian ungkapan haru Syaikh Ad-Diba'i dalam kisah tersebut.Kisah itu begitu membekas dalam hati Syaikh Ad-Diba'i. Ia bahkan disebut menangis ketika mengingat kecintaan anak kecil tersebut kepada Rasulullah SAW.
"Aku adalah seorang imam, tetapi aku malu melihat kecintaan seorang anak kecil yang begitu besar kepada Rasulullah SAW," demikian ungkapan yang dinukil dalam kisah tersebut.
Kisah tentang anak kecil yang begitu mencintai Nabi Muhammad SAW itu kemudian disebut ditulis oleh Syaikh Abdurrahman Ad-Diba'i dalam kitab Maulid Ad-Diba'i.
Kisah ini mengandung pesan tentang besarnya kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi umat Islam, kecintaan kepada Nabi tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan mengenal sirah, meneladani akhlaknya, memperbanyak selawat, serta mengikuti ajaran yang beliau sampaikan.
Catatan: Kisah anak kecil ini merupakan kisah yang dinukil dalam literatur Maulid Ad-Diba'i. Detail mengenai makam yang bergeser sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kisah/riwayat tersebut, bukan sebagai fakta sejarah yang berdiri sendiri tanpa verifikasi sumber.
Baca juga:Irhashat Menjelang Kelahiran Nabi SAW, Tanda-Tanda Luar Biasa yang Mengiringinya









