Jamu dan Obat Herbal Bisa Merusak Ginjal jika Dikonsumsi Sembarangan

Jamu dan Obat Herbal Bisa Merusak Ginjal jika Dikonsumsi Sembarangan

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:30
share

Jamu tradisional dan obat-obatan bebas telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari meredakan pegal linu, mengatasi nyeri, hingga menjaga daya tahan tubuh, berbagai produk tersebut kerap dipilih sebagai solusi praktis untuk menjaga kesehatan. Namun, di balik manfaatnya, konsumsi obat, herbal, atau jamu secara sembarangan dan tanpa pengawasan medis ternyata dapat menyimpan risiko serius, termasuk mengganggu hingga merusak fungsi ginjal.

Namun, di balik kebiasaan yang terkesan tak berbahaya tersebut, terdapat risiko serius yang mengintai kesehatan organ vital, khususnya ginjal. Hal itu diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Hamidah dalam sebuah podcast bersama Dokter Spesialis Andrologi sekaligus influencer kesehatan, dr. Jefry Tribowo dalam unggahan video di channel YouTube miliknya.

dr. Hamidah mengingatkan bahwa konsumsi obat-obatan, herbal, maupun jamu-jamuan secara sembarangan tanpa pengawasan medis dapat menjadi pemicu kerusakan fungsi ginjal. Menurutnya, pemahaman masyarakat terkait batasan dosis dan efek samping bahan konsumsi harian ini masih perlu ditingkatkan.

Baca Juga : 5 Racikan Jamu Kekinian yang Cocok Jadi Teman Santai, Ditambahkan Es Krim hingga Soda

"Kebiasaan nomor empat mungkin dari obat, herbal, atau mungkin jamu-jamuan. Kalau dikonsumsi secara sembarangan tanpa anjuran dokter, tanpa pengawasan dokter," kata dr. Hamidah, dikutip Sabtu (1/8/2026).Ia menjelaskan bahwa ginjal bekerja sebagai organ utama yang memetabolisme serta mengarsip sisa racun dari apa yang dikonsumsi manusia melalui urine. Ketika suatu bahan dikonsumsi berlebihan atau bertentangan dengan kondisi tubuh, ginjal harus bekerja keras hingga berisiko mengalami inflamasi atau penurunan fungsi.

Beberapa jenis obat harian yang relatif sering dikonsumsi masyarakat tanpa resep ternyata memiliki potensi merusak ginjal jika digunakan dalam jangka panjang atau dosis tinggi. Di antaranya adalah obat pereda nyeri, obat lambung, beberapa jenis antibiotik, hingga obat-obatan untuk jantung dan pembuluh darah.

Baca Juga : 5 Efek Samping Kebanyakan Makan Protein, Bisa Ganggu Ginjal hingga Jantung

"Jadi ada beberapa obat yang kalau misalnya dikonsumsi berlebihan, dosisnya tinggi, terus-menerus tanpa pengawasan, itu bisa merusak ginjal. Tapi nggak semua kondisi tiba-tiba dalam satu pasien merusak ginjal. Misalnya seperti obat golongan anti nyeri, obat lambung paling sering kemudian obat beberapa jenis antibiotik, atau mungkin ada golongan obat-obat jantung dan pembuluh darah," jelas dia.

Lebih lanjut, dr. Hamidah menerangkan bahaya interaksi obat (drug interaction) yang kerap diabaikan masyarakat saat meminum beberapa jenis obat sekaligus tanpa petunjuk yang jelas. "Atau mungkin dari obat tersebut sebenarnya aman nih tapi karena dikombinasi dengan obat lain, itu dapat meningkatkan toksisitas pada ginjal," tambah dr. Hamidah.Mekanisme kerusakan ginjal akibat obat-obatan ini terjadi secara bervariasi. Bisa jadi reaksi tersebut bisa langsung terjadi pada ginjal atau menyebabkan penurunan aliran darah menuju ginjal.

Meski demikian, ia menekankan bahwa hal ini bukan berarti masyarakat harus menghentikan atau takut mengonsumsi obat-obatan secara total. Pada penderita penyakit kronis seperti asam urat maupun kencing manis (diabetes), obat-obatan tetap wajib dikonsumsi sesuai penyesuaian (dose adjustment) berdasarkan kadar kreatinin dan kondisi fungsi ginjal pasien.

"Banyak kok obat-obatan yang ternyata aman buat ginjal atau ada juga obat-obat yang mungkin perlu perhatian kalau misalnya fungsi ginjalnya menurun atau kreatinin darah, kreatinin darahnya meningkat sekian-sekian. Itu udah dibuat tabel. Kayak obat asam urat ternyata dia tuh aman, tapi ternyata kalau dosis sekian dengan kreatinin sekian, asam urat sekian, wah itu udah mulai perhatian gitu," papar dia.

Hal serupa juga berlaku untuk pengobatan diabetes, di mana dokter akan memilih jenis obat yang paling aman disesuaikan dengan kondisi ginjal penderita. Di sisi lain, fenomena miskonsepsi mengenai kecenderungan masyarakat yang menganggap herbal, jamu, serta suplemen vitamin selalu aman 100 persen karena berlabel alami juga turut disorot.

“Sama mungkin yang sering miskonsepsi itu kan tentang jamu dan vitamin ya. Jamu juga sama kan tuh dia herbal juga ada pengeluarannya kan dari kencing juga ya. Kalau kita yang herbal-herbal apalagi yang nggak jelas kandungannya, terlalu tinggi segala macam, kita harus waspada juga karena ingat ginjal kita kan bertugas untuk mengeluarkan urin. Nah, kalau kita nggak memperhatikan apa yang kita makan, hati-hati,” jelas dr. Hamidah.

Penggunaan racikan herbal yang tidak jelas kandungan serta dosisnya, hingga asupan suplemen vitamin dosis ultra-tinggi—seperti vitamin D hingga 50.000 IU per hari secara sembarangan—dapat berujung pada nefrotoksisitas (keracunan ginjal).

“Sama halnya dengan vitamin ya, kadang kemarin tuh ada juga berita katanya konsumsi vitamin D bisa sakit ginjal, ternyata di cek vitamin D-nya 50.000 IU sehari. Itu kan di atas dari nilai normal banget ya, nah itu kan udah sembarangan. Makanya vitamin-vitamin pun sebetulnya aman, cuman ya diperhatikan dosisnya, segala sesuatu kalau berlebihan juga enggak bagus,” pungkas dia.

Topik Menarik