Benarkah Minum Obat Kuat untuk Hubungan Seks Bikin Ketergantungan?

Benarkah Minum Obat Kuat untuk Hubungan Seks Bikin Ketergantungan?

Gaya Hidup | okezone | Senin, 27 Juli 2026 - 02:18
share

JAKARTA – Banyak pria khawatir penggunaan obat ereksi atau obat penunjang performa seksual dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan. Padahal, menurut dokter spesialis andrologi, anggapan tersebut merupakan mitos.

Penurunan fungsi ereksi setelah berhenti mengonsumsi obat justru umumnya disebabkan oleh masalah kesehatan yang belum ditangani, bukan karena efek kecanduan obat.

Dokter Spesialis Andrologi dan Kesehatan Reproduksi Pria, dr. Jefry Tribowo, dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya mengatakan obat ereksi pada dasarnya tidak menimbulkan kecanduan atau ketergantungan biologis. Menurutnya, menurunnya fungsi ereksi setelah penghentian obat merupakan tanda bahwa penyebab utama gangguan ereksi masih belum teratasi.

"Kadang banyak pria lansia yang khawatir, 'Dok, kalau minum obat ereksi ini jangan-jangan nanti malah bikin kita ketergantungan, kita malah sulit ereksi kalau stop obat.' Nah, ini sebetulnya perlu kita luruskan ya, obat ereksi itu tidak menimbulkan ketergantungan," kata dr. Jefry.

Ia menjelaskan bahwa obat ereksi bekerja dengan membantu meningkatkan aliran darah ke penis saat dikonsumsi. Namun, obat tersebut bukanlah terapi yang menyembuhkan penyebab utama disfungsi ereksi.

Penyebab Fungsi Ereksi Menurun

Ketika penggunaan obat dihentikan dan fungsi ereksi kembali menurun, kondisi itu bukan disebabkan tubuh mengalami ketergantungan, melainkan karena penyakit atau faktor yang memicu gangguan ereksi masih terus berlangsung.

"Kalau misalnya kita minum obat ereksi hasilnya bagus, tetapi ketika kita stop kemudian turun lagi, itu sebetulnya menunjukkan ada akar penyebab gangguan ereksi yang tidak tertangani. Misalnya, aliran darah memang terbantu saat minum obat. Tetapi ketika berhenti, sementara gula darah tidak terkontrol, tekanan darah naik, atau hormon testosteron rendah, maka fungsi ereksi akan melemah lagi," jelasnya.

Menurut dr. Jefry, beberapa gangguan metabolik dan hormonal seperti diabetes, hipertensi, serta rendahnya kadar hormon testosteron menjadi penyebab utama disfungsi ereksi, terutama pada pria lanjut usia. Jika gaya hidup tidak diperbaiki dan penyakit penyerta tidak dikendalikan, fungsi ereksi dapat kembali menurun meski sebelumnya sempat membaik dengan bantuan obat.

Karena itu, ia menekankan pentingnya mencari dan mengatasi akar penyebab gangguan ereksi melalui pemeriksaan medis, bukan hanya mengandalkan obat untuk mengatasi gejalanya.

"Biasanya kalau akar penyebabnya ditangani lebih awal, fungsi ereksinya akan jauh lebih baik. Makanya sangat penting mengontrol penyebab gangguan ereksi. Kalau itu sudah teratasi dan kondisinya stabil, biasanya fungsi ereksi akan membaik dan kita tidak perlu mengonsumsi obat ereksi dalam jangka panjang," pungkas dr. Jefry.

Topik Menarik