Tampil Memikat dengan Kebaya, Kenali 7 Jenisnya agar Tak Salah Pilih Style!

Tampil Memikat dengan Kebaya, Kenali 7 Jenisnya agar Tak Salah Pilih Style!

Gaya Hidup | okezone | Rabu, 22 Juli 2026 - 16:07
share

JAKARTA - Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional. Kebaya adalah jejak sejarah, akulturasi budaya, dan keanggunan perempuan Indonesia. Seiring berjalannya waktu dan luasnya penyebaran budaya, kebaya beradaptasi melahirkan berbagai variasi yang unik di tiap daerah.

Kini, kebaya juga menjadi pilihan pakaian favorit perempuan Indonesia dalam setiap momen. Berikut adalah beberapa jenis kebaya yang perlu kamu ketahui.

Jenis-jenis Kebaya 

1. Kebaya Kutu Baru

Kebaya ini berasal dari tanah Jawa dan diyakini sebagai bentuk transisi atau evolusi dari pemakaian kemben (kain yang dililitkan di dada). Paling mudah dikenali dari adanya panel atau secarik kain tambahan di bagian tengah yang menghubungkan sisi kiri dan kanan dada. 

Kain penghubung inilah yang disebut "kutu baru". Pada era pemerintahan Presiden Soekarno, kebaya ini sangat populer dan didorong penggunaannya sebagai identitas busana nasional.

2. Kebaya Encim

Kebaya Encim. (Foto: dok Pinterest)

Kebaya Encim adalah hasil akulturasi yang indah antara budaya Tionghoa dan Melayu di kawasan pesisir (seperti Batavia, Semarang, dan Lasem). Pada masa lampau, perempuan keturunan Tionghoa (peranakan) mengadaptasi baju kurung Melayu agar lebih sesuai dengan iklim tropis.

Berbeda dengan kebaya Jawa yang berkesan keraton, kebaya Encim dibuat dari bahan yang ringan (seperti katun atau voile), berwarna-warni cerah, dan dihiasi dengan bordir kerancang bermotif flora atau fauna di sepanjang kerah sampai ujung bawah baju.

3. Kebaya Bali

Kebaya ini lahir dan berkembang di Bali, awalnya banyak digunakan untuk keperluan ibadah ke pura dan upacara adat Hindu. Secara potongan, kebaya Bali mirip dengan kebaya pada umumnya dan sering menggunakan bahan brokat atau katun. 

Namun, identitas utamanya ada pada penggunaan senteng atau selendang yang diikatkan di pinggang. Secara filosofis, ikatan selendang ini bermakna sebagai pengikat hawa nafsu atau hal-hal buruk agar pemakainya siap beribadah.

4. Kebaya Kartini (Kebaya Jawa Klasik)

Namanya diambil dari pahlawan emansipasi wanita, R.A. Kartini, karena model inilah yang paling sering beliau dan perempuan bangsawan (priyayi) Jawa kenakan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Desainnya sangat elegan dan tertutup. Ciri utamanya adalah kerah berbentuk V yang memanjang tanpa adanya tambahan kain kutu baru di tengah. Potongan bawahnya juga biasanya lebih panjang, menutupi area panggul. Di masa lalu, kebaya ini sering menggunakan bahan beludru hitam dengan bordir emas untuk menonjolkan status sosial.

5. Kebaya Labuh (Kebaya Melayu)

Kebaya Labuh. (Foto: dok Pinterest)

Kebaya ini mengakar kuat dalam budaya masyarakat Melayu, khususnya di Kepulauan Riau, Sumatera, dan wilayah Semenanjung Malaya. Kebaya ini menjadi salah satu pakaian adat resmi perempuan Melayu.

Kebaya Labuh memiliki potongan yang lebih longgar dan sangat panjang, biasanya menjuntai hingga menutupi lutut (mirip baju kurung). Bagian depannya terbuka dan disatukan menggunakan tiga buah bros bertingkat yang disebut kerongsang.

6. Kebaya Sunda

Berasal dari tanah Pasundan, Jawa Barat. Sekilas, kebaya ini mirip dengan kebaya Jawa pada umumnya, namun punya detail yang disesuaikan dengan selera dan budaya perempuan Sunda.

Kebaya ini punya ciri khas, biasanya berbentuk huruf U yang agak lebar atau segilima, didesain untuk menonjolkan perhiasan kalung yang dipakai penggunanya. Potongannya sangat pas memeluk lekuk tubuh (membentuk siluet), dan sering kali bagian bawah belakangnya didesain lebih panjang menutupi panggul.

7. Kebaya Janggan

Kebaya Janggan. (Foto: dok Pinterest)

Kebaya ini berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Nama "Janggan" diyakini berasal dari kata jangga, yang dalam bahasa Jawa krama inggil berarti leher. Pada tradisi keraton, kebaya ini merupakan pakaian kebesaran sekaligus seragam resmi bagi para Abdi Dalem Keparak (abdi dalem perempuan) dan kerabat perempuan keraton saat menjalankan tugas atau menghadiri upacara penting.

Kebaya Janggan memiliki desain yang maskulin sekaligus sangat tertutup. Ciri khasnya adalah kerah tegak (stand collar) yang tinggi menutupi leher, sangat mirip dengan kerah pada kerah baju Surjan (pakaian adat pria keraton Yogyakarta).

Bagian depannya menyilang menutupi dada dengan deretan kancing yang posisinya menyamping (biasanya dari kerah turun ke sisi kiri tubuh) atau disembunyikan di balik lipatan kain. Karena potongannya yang rapi, tertutup, dan berkerah tinggi, Kebaya Janggan sering kali memberikan siluet tubuh yang sangat tegap, kuat, dan karismatik bagi pemakainya.

Walaupun banyak perempuan sering menganggap kebaya adalah pakaian asli keraton, tetapi sejarawan meyakini bahwa bentuk awal kebaya justru terinspirasi dari pakaian tunik panjang yang dibawa oleh pedagang Arab dan Portugis (kata kebaya sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab 'abaya yang berarti pakaian).

Topik Menarik