Kuning Telur Tak Perlu Ditakuti, Ahli Gizi Ungkap Mitos Kolesterol
JAKARTA, iNews.id - Kuning telur selama bertahun-tahun kerap dianggap sebagai penyebab utama kolesterol tinggi. Tak sedikit orang sengaja membuang bagian kuning dan hanya mengonsumsi putih telur karena khawatir meningkatkan risiko penyakit jantung.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menegaskan kuning telur justru mengandung berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
Menurut dia, kuning telur merupakan sumber vitamin, mineral, dan berbagai nutrisi esensial yang berperan penting dalam menjaga kesehatan. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut mengonsumsinya selama dilakukan dalam pola makan yang seimbang.
Dr Karina menjelaskan, berbagai penelitian terbaru menunjukkan konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat. Kadar kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan dibandingkan hanya dari telur.
"Peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol," katanya.
Dia menilai, masih banyak masyarakat yang salah kaprah dengan menganggap semua makanan berkolesterol otomatis meningkatkan kolesterol darah. Padahal, faktor yang lebih berpengaruh adalah tingginya asupan lemak jenuh dan lemak trans dari makanan olahan maupun gorengan.
Selain meluruskan mitos tentang kolesterol, Dr Karina juga menjelaskan cara memasak telur turut menentukan kualitas gizinya. Menurut dia, telur yang dimasak dengan benar justru memiliki protein yang lebih mudah diserap tubuh.
"Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," ujarnya.
Meski demikian, dia mengingatkan agar telur tidak dimasak dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu ideal memasak telur berkisar 60 hingga 80 derajat Celsius, sedangkan pemanasan di atas 150 hingga 160 derajat Celsius dapat merusak sebagian asam amino sehingga kualitas proteinnya menurun.
Bagi masyarakat yang ingin menjaga berat badan, Dr Karina menyarankan memilih metode memasak yang minim minyak, seperti merebus, membuat *poached egg*, atau mengukus. Jika ingin membuat telur ceplok maupun telur dadar, penggunaan minyak sebaiknya dibatasi dengan memanfaatkan wajan anti lengket atau minyak semprot.
Dia menegaskan, baik telur ceplok maupun telur dadar tetap menjadi pilihan menu bergizi selama diolah dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu lagi takut mengonsumsi kuning telur hanya karena khawatir kolesterol, melainkan lebih memperhatikan pola makan secara keseluruhan agar tetap sehat dan seimbang.









