Apa Itu Penyakit Trimethylaminuria? Bisa Bikin Hilang Percaya Diri hingga Depresi
JAKARTA - Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang dengan bau amis di badan meski sudah mandi, memakai deodorant atau parfum? Jika pernah jangan langsung menilai bahwa orang tersebut bau badan. Namun, bisa jadi ia mengidap kondisi medis langka bernama Trimethylaminuria.
Lalu apa sih sebetulnya penyakit Trimethylaminuria? Bagi sebagian orang mungkin nama penyakit ini sangat asing di telinga. Namun di dunia medis penyakit ini pernah dijumpai.
Influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama dalam unggahan di akun instagramnya mengatakan, penyakit tersebut merupakan kondisi di mana tubuh seseorang gagal memecah senyawa kimia Trimethylamine (TMA) dari senyawa berbau amis yang dihasilkan pencernaan makanan yang tinggi kolom dan senyawa nitrogen.
“Normalnya enzim FMO3 di hati itu mengubah TMA menjadi Trimethylamine N-Oxide di mana bentuk yang tidak berbau. Tapi pada penderita ini si enzim FMO3 ini dia rusak atau tidak aktif sehingga TMA menumpuk di dalam tubuh dan keluar lewat keringat, nafas, urin atau cairan reproduksi,” kata dr. Aditya, dikutip Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan sebuah studi bahwa mutasi pada gen FMO3 bisa mengganggu jalur metabolisme TMA dan mengakibatkan kadar TMA pada tubuh meningkat hingga 10 sampai 50 kali lebih tinggi. “Sehingga bau yang keluar sangat kuat dan khas seperti ikan busuk,” ucapnya.
Kondisi tersebut bisa semakin parah jika seseorang yang menderita kondisi itu mengkonsumsi seafood terlalu banyak, telur berlebih, hati, kacang atau bisa karena stres dan cemas berlebihan.
Menurutnya, penyakit ini tidak bisa disembuhkan secara genetik tapi bisa diupayakan agar bau yang ditimbulkan tidak terlalu menyengat. Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain diet rendah TMA dan kolin, tambahan antibiotik dosis rendah seperti metronidazol atau neomycin untuk menekan bakteri penghasil TMA.
“Yang ketiga, activated charcoal di mana yang membantu mengikat TMA di usus. Dan yang keempat, gunakan sabun mandi yang punya pH seimbang. Di mana ini untuk mengurangi pelepasan TMA via kulit,” tutur dr. Aditya.
Di sisi lain, penanganan yang paling krusial adalah konseling dan dukungan mental terhadap penderita. Sebab, kondisi tersebut tidak berbahaya secara fisik namun berbahaya secara mental atau psikologis.
“Jadi ada studi yang menemukan bahwa lebih dari 70 persen pasien ini mengalami penurunan kualitas hidup, mengalami kecemasan sosial bahkan sampai depresi. Karena apa? Karena sering dianggap jorok atau tidak menjaga kebersihan,” ucapnya.










