Orang Tua Sering Bertengkar di Rumah? Ini Dampaknya pada Otak Anak!
Dokter yang sering membagikan konten kesehatan, Adam Prabata kembali membagikan edukasi kesehatan melalui akun media sosialnya. Kali ini, di akun X @AdamPrabata, ia membahas dampak kondisi keluarga yang tidak stabil terhadap aktivitas otak anak.
Dalam unggahannya, Adam menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik, kekerasan, atau pengabaian ternyata dapat mengalami pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah berada di medan perang.
“Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang,” tulis Adam.
Baca Juga : Waduh! Lebih dari 700 Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Cemas dan Depresi
Hal itu ditemukan melalui penelitian yang memeriksa aktivitas otak anak menggunakan metode fMRI atau functional Magnetic Resonance Imaging. Menurut dr. Adam, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di dua area penting otak yakni anterior insula dan amigdala.Di mana keduanya berperan dalam mendeteksi ancaman serta merespons stres. Kondisi tersebut membuat anak berada dalam mode “siap siaga” secara terus-menerus karena terbiasa hidup di lingkungan penuh tekanan.
“Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi ‘siap siaga’ terus-menerus, mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur,” jelasnya.
Dokter Adam juga menyebut kondisi itu dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental anak. Anak dapat mengalami risiko gangguan kecemasan, kesulitan mengatur emosi, hingga masalah psikologis lainnya.
Baca Juga :11 Tanda Anak Berpotensi Lakukan Bunuh Diri, Waspadai!
Namun ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah akan mengalami kerusakan otak permanen. Karena otak disebut sangat plastis, dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman dan stabil.
“Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat,” tulisnya lagi.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman dan suportif demi perkembangan mental dan emosional anak di masa depan.










