Stop Kasih Gadget ke Anak di Bawah 2 Tahun! Dokter Ungkap Dampak Seriusnya
JAKARTA, iNews.id — Kebiasaan memberikan gadget atau smartphone kepada anak balita kini makin umum di kalangan orang tua modern. Padahal, di balik kemudahannya, ada dampak serius yang sering tidak disadari, terutama untuk anak di bawah usia 2 tahun.
Dokter Spesialis Anak dan Ahli Tumbuh Kembang Anak RS Bunda Ciputat, dr Dewi Kartika Suryani, Sp.A, menegaskan bahwa usia di bawah 2 tahun merupakan fase krusial dalam perkembangan bahasa anak. Pada periode ini, anak mengalami apa yang disebut sebagai 'ledakan bahasa'.
"Kalau usia 18 bulan itu masa ledakan bahasa. Dari yang tadinya cuma bisa ‘mama, papa’, tiba-tiba anak jadi banyak ngomong. Di usia 2 tahun, dia sudah bisa menyusun kalimat sederhana seperti ‘mama mau makan’," jelas dr Deka di acara Peresmian Mika Daycare & Preschool Cabang BSD, Tangerang Selatan, Sabtu (25/4/2026).
Namun, menurutnya, pemberian gadget justru bisa menghambat proses penting tersebut. "Itulah kenapa di bawah 2 tahun nggak boleh (dikasih gadget). Harapannya anak di 2 tahun sudah bisa ngomong dulu," tegasnya.
Salah satu alasan utama larangan ini adalah cara anak belajar bicara. Anak tidak hanya menyerap suara, tetapi juga belajar dari interaksi langsung, termasuk melihat gerakan mulut dan kontak mata orang tua.
"Proses absorpsi bahasa itu paling bagus bukan dari gadget. Anak belajar bicara karena dia melihat gerakan mulut mama-papanya dan ada interaksi langsung," ujarnya.
Ia menambahkan, meski gadget 'terlihat' interaktif, kenyataannya komunikasi yang terjadi hanya bersifat satu arah.
"Miss Rachel ngomong A, kita mau ngomong Z, nggak nyambung kan. Harus ada take and talk supaya anak merasa apa yang dia omongkan itu bermakna," katanya.
Risiko Speech Delay Meningkat
Dampak paling nyata dari paparan gadget sejak dini adalah meningkatnya kasus keterlambatan bicara atau speech delay. Bahkan, dr Deka mengungkapkan tren ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
"Dari 8 tahun terakhir saya jadi dokter, angka gangguan bicara ekspresi atau speech delay itu meningkat drastis," ungkapnya.
Lebih mengkhawatirkan, anak yang terlalu sering berinteraksi dengan layar bisa menunjukkan gejala mirip autisme.
"Kontak matanya kurang, interaksinya minim, karena dia terbiasa berinteraksi dengan layar, bukan dengan orang," jelasnya.
Gangguan Motorik dan Hilangnya Rasa Ingin Tahu
Tak hanya bahasa, perkembangan motorik anak juga bisa terganggu. Anak yang terlalu sering menonton cenderung kurang terlatih menggunakan tangan untuk aktivitas sederhana seperti memegang krayon.
"Di usia 18 bulan harusnya anak mulai pegang pensil atau krayon. Tapi kalau kebanyakan nonton, dia nggak terbiasa," katanya.
Selain itu, paparan konten visual yang terlalu 'meriah' justru bisa menumpulkan rasa penasaran anak terhadap dunia nyata.
"Kalau dia sudah terbiasa lihat yang warna-warni di TV, nanti lihat truk di dunia nyata jadi nggak seru. Padahal itu harusnya jadi pengalaman menarik buat mereka," ujar dr Deka.
Meski mengakui ada kondisi tertentu yang 'memaksa' orang tua memberikan gadget, dr Deka tetap menekankan bahwa interaksi langsung harus menjadi prioritas utama.
"Anak belajar bahasa bukan dari banyaknya kata yang dia dengar, tapi dari respons terhadap apa yang dia ucapkan," tuturnya.
Ia pun mengingatkan bahwa dua tahun pertama kehidupan anak adalah fondasi penting yang tidak bisa diulang. "Interaksi itu harus dikuatkan di dua tahun pertama. Kalau tidak, biasanya akan terjadi speech delay," pungkasnya.
Peringatan ini menjadi alarm bagi para orang tua masa kini agar lebih bijak dalam mengenalkan teknologi pada anak, karena dampaknya nyata dan bisa memengaruhi tumbuh kembang mereka dalam jangka panjang.










