Menikmati Kopi dan Kuliner Tradisional Kaya Cita Rasa Sarat Sejarah di Kawisari Menteng

Menikmati Kopi dan Kuliner Tradisional Kaya Cita Rasa Sarat Sejarah di Kawisari Menteng

Gaya Hidup | sindonews | Sabtu, 4 April 2026 - 19:00
share

Pintu kayu tinggi terbuka pelan memperlihatkan ruang makan luas dengan langit-langit menjulang dan lengkungan putih bergaya kolonial yang rapi. Cahaya lampu gantung bermotif klasik memantul lembut di lantai kayu, sementara di tengah ruangan terbentang kolam ikan memanjang dengan pancuran kecil yang bergerak ritmis, menciptakan suara gemericik menenangkan di antara meja-meja yang tertata simetris.

Di langit-langit, atap kaca besar membingkai lampu gantung di tengah ruang. Ornamen burung berukuran besar dengan sayap membentang—berwarna hitam, putih, merah, dan biru—terpasang di beberapa titik, seolah melayang melintasi ruangan dan memberi aksen artistik yang kuat sekaligus ikonik.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Makan: Menikmati Kehangatan 'Just Made Moments' di Hikiniku to Come Jakarta

Di sisi kiri, tangga kayu dengan detail ukiran klasik membawa mata menuju lantai atas. Dinding di sekelilingnya dipenuhi bingkai foto dan ilustrasi bergaya vintage yang menyiratkan jejak masa lalu. Sementara itu, area bar di bagian belakang tampil elegan dengan sentuhan warna hijau dan emas, lengkap dengan kursi tinggi yang tersusun rapi, menghadirkan nuansa hangat namun eksklusif.

Bergeser ke sisi kanan, jendela kayu besar dengan panel kaca membuka pandangan ke luar, menghadirkan cahaya yang menyeimbangkan interior. Meja-meja kecil di area ini terasa lebih privat, ditempati pengunjung yang larut dalam percakapan atau menikmati hidangan dengan tenang. Interaksi yang terjadi mengalir alami, menyatu dengan ritme ruang yang terasa hidup.Sementara itu, dinding utama di bagian belakang ruang, terpampang mural besar bernuansa tropis menampilkan lanskap perkebunan lengkap dengan pohon kelapa, para pekerja, dan elemen alam. Lukisan ini seolah menjadi penghubung visual antara ruang makan di Jakarta dengan asal-usul cerita yang dibawa dari Jawa Timur.

Di tengah komposisi tersebut, Kawisari Menteng hadir sebagai perpanjangan pengalaman dari perkebunan Kawisari dan Sengon di Wlingi, Blitar, Jawa Timur. Jaringan Tugu Hotels & Restaurants menghadirkan outlet keempat ini di Jalan Teuku Cik Ditiro No.4 Jakarta, berdampingan dengan restoran legendaris Lara Djonggrang, setelah sebelumnya sukses di Kebon Sirih Jakarta, Malang, dan Canggu, Bali.

Baca juga: Rekomendasi 5 Resto Jepang di Jakarta yang Cocok untuk Berbuka Puasa

Kopi yang disajikan membawa jejak panjang sejak 1870, saat perkebunan Kawisari didirikan pascasistem tanam paksa oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Varietas Arabika, Robusta, hingga Kopi Luwak dipanen secara tradisional oleh ratusan warga desa, lalu diproses dengan metode full washed untuk menghasilkan kualitas terbaik. Pengakuan internasional pun diraih melalui International AVPA France Gourmet Award 2019 untuk kategori kopi Robusta terbaik. “Setiap cangkir membawa cerita panjang dari perkebunan,” ujar Regional Sales & Marketing Manager Tugu Hotels, Rosiany T. Chandra.

Tak hanya kopi, hasil perkebunan lain seperti karet, cengkeh, serta sayur dan buah organik turut menjadi bagian dari konsep yang dihadirkan. Menu yang ditawarkan mengangkat kekayaan kuliner pedesaan Jawa Timur. Antara lain nasi besek bebek goreng lengkuas dengan pelengkap sayuran dan sambal matah Bali, disajikan dalam wadah anyaman bambu yang memperkuat identitas tradisional. “Kami ingin menghadirkan pengalaman autentik, bukan sekadar minum kopi. From farm to table,” tambah Rosiany.Pilihan minuman berkembang mengikuti selera masa kini. Selain kopi klasik Jawa, tersedia pula racikan kreatif seperti charcoal latte, kopi klepon, hingga alcohol-infused coffee. Tidak berhenti di situ, pengunjung juga dapat menikmati mocktail, cocktail, hingga wine yang diracik untuk melengkapi pengalaman bersantap. “Kami menggabungkan tradisi dan inovasi dalam satu meja,” kata Rosiany.

Sebagai pelengkap, aneka camilan tradisional seperti pisang goreng lempang lempung, serabi mak-mak, tempe mendoan, hingga pohong merekah dihadirkan untuk menghidupkan kembali kebiasaan lama para pekerja perkebunan.

Perpaduan ruang yang artistik, kisah sejarah yang panjang, serta ragam cita rasa yang kaya menjadikan Kawisari Menteng bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang perjumpaan antara warisan masa lalu dan gaya hidup urban Jakarta hari ini.

Topik Menarik