Anak yang Punya HP Sendiri Berisiko Alami Gangguan Otak, Dokter Ungkap Alasannya

Anak yang Punya HP Sendiri Berisiko Alami Gangguan Otak, Dokter Ungkap Alasannya

Gaya Hidup | inews | Minggu, 29 Maret 2026 - 15:34
share

JAKARTA, iNews.id – Pemberian ponsel pada anak, terutama di usia dini, ternyata bisa berdampak serius pada perkembangan otak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan, paparan gawai sejak usia terlalu muda berisiko mengganggu tumbuh kembang otak anak.

Peringatan ini mengemuka seiring implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang mengatur pembatasan akses digital bagi anak. IDAI menilai kebijakan tersebut penting sebagai langkah awal melindungi anak dari dampak buruk dunia digital.

Ketua Pengurus Pusat IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan, dua tahun pertama kehidupan anak merupakan fase paling krusial dalam perkembangan otak.

"Pada periode ini, otak anak berkembang sangat cepat dan membutuhkan interaksi nyata, bukan dari layar. Paparan gawai justru bisa mengganggu proses tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (29/3/2026).

Menurut IDAI, stimulasi terbaik bagi bayi dan balita adalah interaksi langsung seperti berbicara, bermain, dan kontak fisik dengan orang tua. Hal ini tidak bisa digantikan oleh konten digital, seinteraktif apa pun tampilannya.

Jika anak terlalu dini terbiasa dengan ponsel, ada risiko terjadinya gangguan pada perkembangan kognitif, bahasa, hingga kemampuan sosial. Anak bisa menjadi kurang responsif terhadap lingkungan sekitar karena lebih fokus pada layar.

Selain itu, penggunaan gawai berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan konsentrasi dan kesulitan mengelola emosi di kemudian hari. Anak yang terbiasa dengan stimulasi instan dari layar cenderung lebih mudah bosan dan sulit fokus pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI dr Fitri Hartanto menambahkan bahwa dampak ini tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga emosional.

"Anak membutuhkan pengalaman nyata untuk membangun kemampuan berpikir dan berinteraksi. Jika terlalu banyak terpapar layar, proses itu bisa terhambat," jelasnya.

IDAI bahkan menegaskan bahwa anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak terpapar gawai sama sekali. Sementara untuk anak yang lebih besar, penggunaan harus dibatasi dan selalu dalam pendampingan orang tua.

Di sisi lain, tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk mengawasi penggunaan gawai anak secara optimal. Kondisi ini membuat kebijakan pembatasan menjadi penting sebagai bentuk perlindungan tambahan.

IDAI pun mengingatkan bahwa memberikan ponsel kepada anak bukan solusi untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian. Kebiasaan tersebut justru dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan otak dan kesehatan mental anak.

Sebagai gantinya, orang tua didorong untuk memperbanyak aktivitas fisik, interaksi sosial, dan komunikasi langsung dengan anak. Langkah ini dinilai lebih efektif dalam mendukung perkembangan otak yang optimal.

"Yang dibutuhkan anak adalah kehadiran dan interaksi, bukan layar," tegas dr Fitri.

Melalui peringatan ini, IDAI mengajak orang tua untuk lebih bijak dalam memberikan akses ponsel kepada anak. Sebab, di balik kemudahan teknologi, terdapat risiko serius yang dapat memengaruhi masa depan generasi muda.

Topik Menarik