Marlyn Ivana Trigita Jadi Lulusan Tercepat Psikologi UGM, Kuliah Tuntas 3 Tahun 2 Bulan
Mahasiswa program studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Marlyn Ivana Trigita dinobatkan sebagai lulusan tercepat dengan menuntaskan studi dalam waktu 3 tahun 2 bulan 1 hari. Padahal masa studi rata-rata untuk 1.201 wisudawan Program Sarjana adalah 4 tahun 2 bulan. Berhasil menjadi lulusan dengan masa studi tercepat, Marlyn mengaku capai tersebut berkat dari hasil ketekunan dan strategi belajar yang tepat dapat mempercepat proses akademik tanpa mengurangi kualitas. Bagi Marlyn, kelulusan memiliki makna personal yang mendalam untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah ia mulai sebelumnya.
Baca juga: Kisah Cynthia Fransisca, Lulusan SMK Cumlaude FEB UGM, Kini Diterima Kerja di EY
“Aku memulai studi di UGM, jadi aku harus menyelesaikannya, ya wisuda ini,” katanya, dikutip dari laman UGM, Selasa (10/3/2026).
Marlyn menilai sistem perkuliahan di Psikologi yang telah terstruktur per semester sangat membantu dirinya dan mahasiswa lainnya untuk memiliki alur pembelajaran yang relatif seragam. Dinamika perbedaan baru terasa ketika memasuki semester 6 dan 7, terutama saat mulai mempersiapkan skripsi.
“Kalau di psikologi, kita dipaketin per semester itu berapa SKS, jadi per orang rata-rata akan punya rundown yang sama. Mungkin, dinamikanya itu bakalan terlihat ketika masuk di semester 6 atau 7,” tuturnya.Baca juga: Kisah Tiara, Sukses Raih Gelar Sarjana Kedokteran Gigi UGM di Usia 20 Tahun
Menurut Maryln, kunci utama percepatan studinya adalah fokus. Ia memilih menggunakan data sekunder yang telah dipublikasikan dan divalidasi, sehingga dapat menghemat waktu pengumpulan data tanpa mengurangi kualitas penelitian. “Strateginya adalah fokus ke skripsimu. Di skripsi ini, data yang digunakan adalah sekunder atau data yang dipublikasikan dan sudah divalidasi juga karena diambil dari perusahaan yang sudah meriset itu,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi peran dosen pembimbing yang responsif, cekatan, dan kritis dalam memberikan masukan. Dukungan tersebut membuat proses penyusunan skripsinya berjalan efektif. Selain itu, fleksibilitas dosen pembimbing, bantuan akademik yang menjelaskan alur administrasi secara rinci, serta dukungan teman-teman yang menjadi ruang aman selama proses pengerjaan skripsi turut menjadi faktor penting keberhasilannya.
“Dosen pembimbing cukup fleksibel, sangat kritis, dan cepat dalam merespon bimbingan sehingga itu sangat membantu. Akademik psikologi juga sangat membantu dalam penjelasan alur skripsi sampai kelulusan dengan rinci. Lalu, terima kasih juga kepada teman-teman karena selalu mendukung dan menjadi tempat aman di masa pembuatan skripsi,” kata Marlyn.Di balik kelancaran tersebut, Maryln mengakui ada tantangan yang tidak sederhana. Salah satu proses paling rumit adalah data cleaning saat penulisan skripsinya. Data yang ia gunakan berjumlah ribuan dengan banyak variabel, sehingga proses memilah dan menentukan variabel yang relevan membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup panjang. “Data cleaning adalah salah satu proses paling rumit yang ada di masa pembuatan skripsi. Itu karena data yang diambil juga jumlahnya ribuan dan variabelnya banyak, jadi untuk milah yang mau dipakai itu cukup memakan waktu,” jelasnya.
Dalam skripsinya yang berjudul “Peran Otonomi Pengambilan Keputusan terhadap Peluang Terjadinya Depresi pada Perempuan Menikah di Indonesia”, Marlyn mengangkat isu yang relevan dengan konteks sosial Indonesia. Penelitian ini terinspirasi dari pemikiran Michel Foucault tentang relasi kuasa, khususnya gagasan mengenai pembagian kekuasaan yang tidak selalu berjalan seimbang dalam praktik sosial. Dalam konteks masyarakat yang masih cenderung patriarkal, pembagian kekuasaan dalam keluarga kerap tidak setara, terutama terhadap perempuan.
Di sisi lain, dalam psikologi terdapat teori self-determination yang menekankan bahwa otonomi merupakan salah satu dari tiga kebutuhan dasar yang berperan penting dalam kesehatan mental. Marlyn ingin mengetahui apakah pola yang ditemukan dalam penelitian luar negeri, bahwa rendahnya otonomi perempuan berkorelasi dengan meningkatnya risiko depresi, juga terjadi di Indonesia.
“Di Indonesia sendiri belum ada penelitian yang secara spesifik membahas ini. Makanya ini jadi peluang untuk menelitinya,” ungkapnya.
Penelitian tersebut menggunakan data sekunder dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang kelima yang dikumpulkan oleh beberapa perusahaan. Melalui data berskala besar tersebut, ia menganalisis hubungan antara tingkat otonomi pengambilan keputusan perempuan menikah dan peluang terjadinya depresi.
Ia juga menyoroti fenomena shadowed autonomy, yakni kondisi ketika perempuan tampak terlibat dalam pengambilan keputusan, tetapi keputusan tersebut bukan sepenuhnya didasarkan pada kehendak pribadi. Pengalaman dan pengamatan terhadap dinamika keluarga di sekitarnya turut menguatkan ketertarikannya pada topik ini.
Bagi Marlyn, skripsi adalah proyek panjang yang harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat, terlebih bagi mahasiswa yang menjadikannya sebagai pengalaman penelitian pertama. Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami topik dan metode penelitian secara mendalam sejak awal. “Pelajari topik dan metode yang akan kamu pakai itu sebaik mungkin. Tapi nggak perlu jadi yang tercepat. Just do it as good as possible,” pesannya.










