Resmi! Thailand Pangkas 50 Persen Kadar Gula Minuman, Thai Tea Kini Tak Semanis Dulu
Selain terkenal dengan destinasi wisata dan budayanya, Thailand juga dikenal lewat ragam kuliner khasnya. Salah satu yang paling populer di kalangan wisatawan adalah Thai tea, minuman manis yang kerap menjadi incaran para pelancong saat berkunjung ke Negeri Gajah Putih.
Namun kini, wisatawan mungkin akan merasakan perbedaan pada tingkat kemanisan minuman di Thailand. Pemerintah setempat resmi mengubah standar kadar gula dalam minuman kemasan maupun yang dijual di gerai-gerai populer.
Dalam kebijakan terbaru ini, tingkat kemanisan “normal sweet” berarti mengandung 50 persen lebih sedikit gula dibandingkan sebelumnya. Aturan tersebut diberlakukan sebagai bagian dari kampanye nasional untuk menekan konsumsi gula berlebih di masyarakat.
Baca Juga : Sering Dikonsumsi, Makanan dan Minuman Ini Diam-diam Bisa Merusak Usus
Selama ini, minuman manis di Thailand memang dikenal memiliki kadar gula yang cukup tinggi, mulai dari iced coffee, Thai milk tea, hingga minuman cokelat dingin. Dengan standar baru, kadar gula dalam satu gelas minuman ukuran sekitar 473 ml yang sebelumnya bisa mengandung lebih dari tujuh sendok teh gula, kini dipangkas menjadi sekitar tiga hingga empat sendok teh saja.Artinya, wisatawan tidak lagi harus memilih opsi “less sugar” untuk mendapatkan minuman yang lebih sehat. Meski begitu, pelanggan tetap dapat meminta tingkat kemanisan seperti sebelumnya jika menginginkannya.
Kebijakan ini tak hanya membantu mengurangi asupan kalori, tetapi juga membawa berbagai manfaat kesehatan, seperti energi yang lebih stabil, penurunan risiko obesitas dan diabetes, peningkatan kesehatan metabolisme, hingga kondisi kulit yang lebih terjaga.
Baca Juga : 9 Manfaat Tidak Minum Manis selama 30 Hari, Turunkan Risiko Diabetes dan Berat Badan
Menariknya, menurut otoritas kesehatan setempat, lidah manusia hanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk beradaptasi dengan tingkat kemanisan yang baru.
Langkah Thailand ini dinilai sebagai sinyal perubahan gaya hidup di kawasan Asia Tenggara. Di tengah tren minuman kekinian yang cenderung tinggi gula, kesadaran terhadap konsumsi gula tersembunyi semakin meningkat.
Alih-alih menghapus minuman manis sepenuhnya, strategi ini dilakukan dengan menggeser standar secara bertahap. Pendekatan tersebut dianggap lebih realistis karena tidak memaksa perubahan drastis, melainkan membentuk kebiasaan baru secara perlahan.










