Bahaya Makan Mi Instan saat Buka dan Sahur, Jangan Anggap Sepele Ini Dampaknya bagi Kesehatan

Bahaya Makan Mi Instan saat Buka dan Sahur, Jangan Anggap Sepele Ini Dampaknya bagi Kesehatan

Gaya Hidup | inews | Rabu, 25 Februari 2026 - 12:07
share

JAKARTA, iNews.id - Bahaya kebanyakan makan mi instan saat sahur dan berbuka puasa kerap diabaikan banyak orang selama bulan Ramadan. Padahal, momen sahur dan berbuka menjadi waktu penting untuk mengisi energi sebelum dan sesudah berpuasa seharian penuh.

Tubuh membutuhkan asupan protein, vitamin, mineral, dan nutrisi seimbang agar tetap bertenaga saat berpuasa. Sayangnya, tidak sedikit orang justru memilih makanan praktis yang minim gizi, salah satunya mie instan.

Cara penyajian yang cepat dan rasa yang dianggap lezat membuat mi instan sering menjadi pilihan utama saat sahur maupun berbuka. Terlebih ketika bangun sahur dalam kondisi terlambat, mie instan kerap menjadi solusi instan agar tidak melewatkan makan sahur.

Padahal, jika dikonsumsi secara terus-menerus, bahaya makan mie instan saat sahur dan berbuka dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Kandungan natrium, lemak jenuh, serta minimnya nutrisi penting menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai.

Gangguan Kesehatan akibat Kandungan Natrium Tinggi

Melansir Keck Medicine of USC, mie instan dikenal memiliki kandungan natrium yang cukup tinggi. Konsumsi natrium berlebihan secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Tak hanya itu, asupan natrium yang tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke, penyakit jantung, serta gangguan metabolisme seperti diabetes. Saat dikonsumsi saat sahur, kandungan garam yang tinggi juga bisa membuat tubuh lebih cepat merasa haus saat berpuasa.

Lemak Jenuh dan Kalori Tinggi Picu Obesitas

Mengutip Healthline, satu porsi mi instan mengandung sekitar 43 gram dengan 188 kalori. Meski terasa mengenyangkan, mi instan sangat minim kandungan nutrisi penting seperti protein, serat, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, dan kalium.

Selain itu, kandungan antioksidan dan fitokimia dalam mi instan juga sangat rendah. Padahal, zat tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan melindungi sel dari kerusakan.

Jika dikonsumsi berlebihan tanpa diimbangi asupan gizi lain, kalori tinggi dalam mie instan dapat meningkatkan risiko obesitas atau kelebihan berat badan. Tubuh cenderung hanya menyerap kalori tanpa mendapatkan nutrisi esensial yang dibutuhkan.

Gangguan Pencernaan

Bahaya makan mie instan saat sahur dan berbuka juga berkaitan dengan sistem pencernaan. Mi instan diawetkan menggunakan Tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ), zat aditif berbasis minyak bumi yang juga ditemukan dalam produk seperti pernis dan pestisida.

TBHQ dikenal sulit dicerna oleh tubuh. Proses pencernaan yang lebih lama dapat menghambat penyerapan nutrisi dari makanan lain, sehingga tubuh tidak mendapatkan manfaat gizi secara optimal.

Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, sistem pencernaan bisa terganggu dan metabolisme tubuh menjadi tidak seimbang. Apalagi saat bulan Ramadhan, tubuh membutuhkan asupan nutrisi berkualitas untuk menjaga stamina.

Sebab itu, penting untuk lebih bijak dalam memilih menu sahur dan berbuka. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan protein, serat, serta vitamin dan mineral yang cukup jauh lebih dianjurkan dibandingkan menjadikan mie instan sebagai menu utama setiap hari.

Topik Menarik