Generasi Produktif RI Melimpah, Pakar Ingatkan Risiko di Masa Depan
JAKARTA – Pakar demografi asal Inggris, Paul Morland, mengingatkan Indonesia agar tidak terlena dengan narasi dividen demografis tanpa strategi jangka panjang yang terencana. Ia menilai, banyak negara keliru karena menganggap bonus demografi sebagai kondisi permanen, padahal fase tersebut bersifat sementara.
“Indonesia tentu saja memiliki dividen demografis,” ujar Morland dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).
Ia menceritakan pengalamannya saat berada di Jakarta pada 14 Februari lalu. Pada malam Valentine, lalu lintas ibu kota terpantau macet. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh besarnya jumlah anak muda berusia 20-an yang keluar bersama pasangan untuk makan malam maupun menikmati hiburan.
Fenomena itu, kata Morland, mencerminkan dominasi penduduk usia produktif di Indonesia saat ini. Ia memandang situasi tersebut sebagai hal positif, terutama karena generasi muda kini cenderung tidak membentuk keluarga besar seperti generasi sebelumnya.
Sinopsis Mencintai Ipar Sendiri Eps 98: Demi Hancurkan Ayuna-Rafki, Shilla Berniat Datangkan Rafka
“Mereka memasuki dunia kerja, terlibat dalam ekonomi global, dan memberikan energi besar bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Morland juga menilai kecenderungan generasi muda yang menunda pernikahan dan kelahiran anak sebagai perkembangan yang positif. Menurut dia, pola tersebut memungkinkan individu berkontribusi secara ekonomi terlebih dahulu sebelum membangun keluarga.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesalahan yang kerap terjadi di berbagai negara adalah tidak menyadari bahwa bonus demografi hanya berlangsung dalam periode tertentu.
“Kesalahan besarnya adalah memanfaatkan momen itu tanpa menyadari bahwa itu hanyalah sebuah momen,” katanya.
Morland menegaskan, apabila tingkat fertilitas tidak dijaga pada kisaran ideal, yakni sekitar dua hingga tiga anak per keluarga, maka suatu negara berisiko kehilangan modal manusia pada masa depan. Dalam 20 hingga 30 tahun mendatang, ketika generasi produktif saat ini memasuki usia pensiun, jumlah penduduk usia kerja dikhawatirkan tidak lagi memadai untuk menggantikan mereka.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kebijakan kependudukan yang berkelanjutan. Kebijakan tersebut, menurutnya, tidak hanya berfokus pada optimalisasi bonus demografi saat ini, tetapi juga menjaga keseimbangan struktur penduduk dalam jangka panjang. Tanpa perencanaan yang matang, dividen demografis berpotensi berubah menjadi beban demografis di kemudian hari.










