Makan Sayur Kok Malah Gemuk? Ini Penjelasan Menkes Budi Gunadi
Bagi sebagian besar masyarakat, sayur adalah "peluru perak" untuk kesehatan. Sering kali kita merasa aman dan bebas dosa saat mengonsumsi sayur dalam porsi besar, dengan asumsi bahwa serat di dalamnya otomatis akan melunturkan lemak dan mencegah kenaikan berat badan.
Namun realitanya justru berbanding terbalik, banyak dari kita tidak sadar telah mengubah sayuran menjadi "bom kalori" melalui cara pengolahan yang salah, terutama dengan teknik goreng-menggoreng. Apalagi, jika kita konsumsi dalam jumlah banyak dengan harapan menyehatkan bahwa menurunkan berat badan bagi yang sedang melakukan diet.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti fenomena ini sebagai salah satu pemicu masalah kesehatan di Indonesia. Beliau menekankan bahwa sayuran yang seharusnya menyehatkan bisa menjadi bumerang jika bertemu dengan minyak panas.
Baca Juga : Tak Selalu Lebih Baik Mentah, Ini 5 Sayuran yang Lebih Bergizi Setelah Dimasak
"Makan sayur kok malah bikin gemuk dan kolesterol naik ya? Nah, pantas saja karena makan sayurnya kayak begini. Digoreng atau dibalado, ya pantas. Jadi tambah gemuk sama kolesterolnya, naik," kata Budi dalam unggahan video di instagramnya, dikutip Selasa (3/2/2026).Ia menjelaskan, alasan utama mengapa sayur goreng menjadi berbahaya terletak pada struktur fisiknya. Berbeda dengan protein hewani yang teksturnya lebih padat, sayuran memiliki sifat seperti spons dimana rongga yang ada justru menyerap cairan di sekitarnya. Sehingga, saat dimasukkan ke dalam minyak, sayur tidak hanya layu, tetapi juga mengikat minyak tersebut ke dalam serat-seratnya.
"Sayur itu sehat karena dia punya serat dan banyak vitaminnya. Nah, tapi sayur itu juga punya sifat seperti spons. Kalau dia ketemu minyak goreng atau dia digoreng pakai minyak, dia akan menyerap semua minyak masuk ke seluruh serat-serat di dalam sayur ini. Jadi, banyak juga minyak di dalamnya," ungkap dia.
Baca Juga : 5 Cara Menikmati Sayuran agar Imun Tubuh Tetap Kuat Saat Musim Pancaroba
Hal tersebut juga selaras dengan kekhawatiran World Healthy Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia. Studi internasional menunjukkan bahwa teknik deep-frying pada sayuran dapat meningkatkan kandungan lemak trans dan menghancurkan mikronutrien sensitif panas seperti Vitamin C dan Folat.
Berdasarkan data dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, orang yang paling banyak mengkonsumsi gorengan setiap minggu berpotensi memiliki masalah jantung sebesar 28 persen dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu banyak mengkonsumsi. Setiap tambahan 114 gram (4 ons) porsi makanan gorengan per minggu meningkatkan risiko keseluruhan sebesar tiga persen.Selain itu, sebuah penelitian yang dimuat dalam British Medical Journal (BMJ) menyebutkan bahwa meskipun bahan dasarnya sehat, proses penggorengan menciptakan senyawa akrilamida yang berisiko bagi kesehatan jangka panjang.
Maka dari itu, Budi menyarankan agar masyarakat kembali kepada cara pengolahan tradisional yang lebih minim minyak, seperti dikukus atau dikonsumsi secara mentah (lalapan), namun dengan catatan kebersihan yang ketat.
"Sayur itu teman tubuh kita. Jangan dimusuhi dengan cara masak yang salah. Masaknya itu harusnya dikukus, direbus, atau makan mentah. Tapi jangan lupa dicuci dulu," pungkas dia.










