Squid Game 3 Dikecam, Diduga Tampilkan Pesan Misoginis
Squid Game 3 resmi tayang di Netflix pada Jumat, 27 Juni 2025. Drama Korea populer tersebut menutup rangkaian cerita yang telah berjalan selama empat tahun atau sejak 2011.
Namun alih-alih mendapat sambutan hangat, Squid Game 3 justru menuai kritik tajam dari penonton. Pasalnya, serial tersebut diduga membawa pesan misoginis dan pro-life yang dianggap mengganggu.
Squid Game 3 Tampilkan Momen Emosional dan Pengorbanan Tragis
Baca Juga:Penjelasan Ending Squid Game 3, Pengorbanan Seong Gi-hun dan Kemenangan Bayi Kim Jun-hui
Foto/KoreabooSquid Game 3 langsung melanjutkan ketegangan dari akhir musim kedua, menyoroti dampak pemberontakan yang terjadi. Permainan berdarah kembali berlangsung, dan sejumlah karakter kunci harus menghadapi konsekuensi fatal.Salah satu momen paling emosional datang dari cerita Pemain 222 (Jun Hee), yang tengah hamil saat permainan dimulai. Dalam salah satu adegan menegangkan, Jun Hee berhasil bertahan cukup lama untuk melahirkan di tengah berlangsungnya permainan.
Namun kematian tragis Pemain 120 (Hyun Ju) dan aksi dramatis Pemain 149 (Geum Ja), yang membunuh putranya sendiri demi menyelamatkan Jun Hee dan bayinya sebelum mengakhiri hidupnya, menjadi pemicu kuat kritik dari penonton.
Gi Hun dan Bayi Jadi Fokus Cerita Picu Tuduhan Agenda Tersembunyi
Setelah permainan lompat tali, Gi Hun (Pemain 456) mengambil tanggung jawab merawat bayi perempuan tersebut. Pemain 222 kemudian mengorbankan dirinya agar Gi Hun dan sang bayi bisa melanjutkan permainan.
Dilansir dari Koreaboo, Minggu (29/6/2025), namun, alur ini berujung pada ketegangan lebih besar saat bayi tersebut menjadi peserta termuda yang tersisa dari sembilan pemain yang lolos.
Foto/KoreabooBaca Juga:Jam Berapa Squid Game 3 Tayang Hari Ini?Foto/KoreabooSaat para pemain dewasa mulai menganggap bayi itu sebagai ancaman, bahkan berupaya menyingkirkannya, ayah biologis bayi, Pemain 333 (Myung Gi), justru tak berbuat apa-apa. Dalam permainan akhir, Myung Gi bahkan mengancam akan membunuh anaknya sendiri, sebelum akhirnya Gi Hun memilih untuk mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan bayi tersebut.
Reaksi Penonton: Tuduhan Misoginis dan Narasi Pro-Life
Penonton mengkritik keras minimnya representasi karakter perempuan setelah episode keempat. Banyak karakter wanita utama telah “dihilangkan” lebih awal dari cerita, menyisakan bayi sebagai satu-satunya karakter perempuan yang tersisa hingga akhir permainan.Kritik pun bermunculan di media sosial. Warganet menuding Squid Game 3 sebagai drama yang menyuarakan narasi misoginis dan diam-diam membawa pesan pro-life atau anti-aborsi.
Beberapa warganet menilai bahwa keputusan karakter untuk mempertaruhkan nyawa demi bayi, termasuk aksi bunuh diri Geum Ja dan pengorbanan Gi Hun, seakan menegaskan bahwa hidup bayi lebih penting dari semua karakter dewasa lainnya. Termasuk ibu dari bayi itu sendiri.
“Aku kira Daeho akan jadi komentar yang bagus soal maskulinitas beracun, tapi konyolnya aku mempercayai penulis yang membunuh semua karakter wanita di episode empat dan diam-diam mendorong agenda pro-life lewat plot Junhee/bayi,” tulis warganet.
Foto/KoreabooBaca Juga:Sinopsis Squid Game 3 Tayang Hari Ini, Nasib Akhir Gi Hun di Permainan Mematikan
Pesan Moral dan Manipulasi Emosional
Meskipun beberapa penonton mengapresiasi keberanian Gi Hun dan nilai kemanusiaan yang ingin ditampilkan, kritik tajam tetap mengalir. Banyak yang menilai bahwa pengorbanan karakter utama tidak hanya terasa tidak realistis, tetapi juga mengesankan manipulasi emosional, dengan menjadikan bayi sebagai simbol yang dipuja secara ekstrem.
Warganet juga mempertanyakan mengapa karakter seperti Jun Hee tidak diberi ruang untuk bertahan lebih lama, atau kenapa tidak ada representasi perempuan yang kuat di babak akhir permainan. Elemen ini memperkuat asumsi bahwa Squid Game 3 terlalu condong pada narasi laki-laki penyelamat dan nilai moral konservatif.
Terlepas dari kritik keras, Squid Game 3 tetap menarik jutaan penonton sejak dirilis. Namun, perdebatan seputar pesan tersembunyi dalam alur ceritanya menunjukkan bahwa publik semakin peka terhadap representasi gender dan isu sosial dalam tontonan populer.
Meski demikian, Netflix belum memberikan pernyataan resmi mengenai kontroversi ini.










