Apakah Film Pengepungan di Bukit Duri Kisah Nyata?
Film Pengepungan di Bukit Duri karya terbaru dari sutradara visioner Joko Anwar yang tayang perdana pada 17 April 2025, memicu pertanyaan publik, apakah cerita yang disuguhkan dalam film ini diangkat dari kisah nyata dan benar-benar terjadi?
Jawabannya, meski bukan berdasarkan satu peristiwa sejarah secara langsung, film Pengepungan di Bukit Duri ini sarat akan inspirasi dari berbagai realitas sosial dan catatan sejarah Indonesia yang benar-benar ada.
Meski mengangkat latar fiktif tahun 2027, Pengepungan di Bukit Duri menyentuh berbagai persoalan nyata yang masih relevan hingga saat ini. Mulai dari kekerasan remaja, diskriminasi etnis, hingga ketimpangan dalam sistem pendidikan.
Joko Anwar menyatakan bahwa ide naskah ini sudah dirancang sejak 2007. Di mana fondasi riset mendalam dan wawancara bersama para siswa serta guru mengenai kekerasan di lingkungan sekolah.
Film ini tidak secara eksplisit mendramatisasi satu kejadian historis tertentu, namun Joko Anwar memasukkan sejumlah elemen simbolis yang mengacu pada peristiwa nyata, seperti kerusuhan Mei 1998.
Foto/TixSalah satu contohnya adalah penggunaan frekuensi radio 98.05 FM, sebuah kode halus yang merujuk pada bulan dan tahun terjadinya tragedi nasional tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bersifat fiksi, film ini memiliki akar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.
Selain menggambarkan kekacauan sosial, Pengepungan di Bukit Duri juga menyampaikan kritik tajam terhadap rendahnya penghargaan terhadap profesi guru dan kegagalan sistem pendidikan dalam membina generasi muda.
Joko Anwar mengakui bahwa keresahan terhadap sistem pendidikan inilah yang menjadi pemicu utama lahirnya film ini. Ia ingin membuka mata publik bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mampu menjadi ruang aman bagi siswa maupun tenaga pengajarnya.
Sinopsis Pengepungan di Bukit Duri
Dilansir dari IMDb, Rabu (30/4/2025), dalam suasana Indonesia tahun 2027 yang digambarkan dalam kekacauan dan ketegangan sosial, film ini mengikuti kisah Edwin, seorang guru yang idealis.
Saat sekolah tempatnya mengajar tiba-tiba menjadi arena konflik berdarah akibat diskriminasi dan kebencian rasial, Edwin harus berjuang untuk melindungi para siswanya dan bertahan hidup dalam situasi yang berubah menjadi mimpi buruk.
Konflik yang dipicu oleh perbedaan identitas dan ketidakadilan sosial membuat sekolah tersebut seolah menjadi miniatur dari kerusuhan nasional.










