10 Kota di Indonesia dengan Konsumsi Gorengan Tertinggi, Batang Posisi Pertama

10 Kota di Indonesia dengan Konsumsi Gorengan Tertinggi, Batang Posisi Pertama

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 19 Maret 2025 - 13:20
share

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sebanyak 10 kabupaten/kota di Indonesia dengan konsumsi gorengan tertinggi. Di mana Kabupaten Batang menduduki peringkat pertama dengan angka konsumsi mencapai 5,69 persen.

Kemudian disusul oleh Indramayu sebesar 5,2 persen, dan Brebes yang berada di peringkat ke-10 dengan konsumsi gorengan sebesar 4,62 persen. Kecenderungan tingginya konsumsi gorengan di wilayah-wilayah tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor.

Salah satunya adalah ketersediaan gorengan yang sangat mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pasar tradisional, warung kaki lima, hingga restoran modern. Harganya yang relatif murah juga membuat gorengan menjadi pilihan makanan favorit bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang mencari camilan cepat dan mengenyangkan.

Selain itu, faktor budaya juga berperan besar. Di mana gorengan telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat, baik sebagai teman makan utama maupun sebagai pendamping minuman seperti teh atau kopi. Berikut daftar 10 kabupaten/kota dengan konsumsi gorengan tertinggi berdasarkan BPS, Rabu (19/3/2025).

10 Kota di Indonesia dengan Konsumsi Gorengan Tertinggi

1. Batang (5,69 persen)2. Indramayu (5,2 persen)3. Kota Pekalongan (5,11 persen)4. Pemalang (5,01 persen)5. Pekalongan (4,95 persen)6. Majalengka (4,94 persen)7. Nagan Raya (4,92 persen)8. Bener Meriah (4,84 persen)9. Padang Lawas (4,84 persen)10. Brebes (4,62 persen)

Tingginya konsumsi gorengan di 10 kabupaten/kota di Indonesia bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari pola konsumsi yang lebih luas di masyarakat Indonesia.

Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan pada 2023, diketahui bahwa sebanyak 51,7 persen penduduk Indonesia yang berusia tiga tahun ke atas mengonsumsi makanan berlemak, berkolesterol, atau gorengan dengan frekuensi 1-6 kali per minggu.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 37,4 persen penduduk Indonesia tercatat mengonsumsi makanan jenis ini minimal satu kali setiap hari. Hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya peran gorengan dalam pola makan harian masyarakat.

Provinsi-provinsi di Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten, menjadi wilayah dengan tingkat konsumsi gorengan tertinggi. Lebih dari 40 persen penduduk di provinsi-provinsi ini tercatat mengonsumsi gorengan setiap hari, menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan makan yang sulit dihilangkan.

Hal ini pun tercermin dari daftar 10 kabupaten/kota dengan konsumsi gorengan tertinggi, yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa. Kabupaten Batang, Indramayu, Kota Pekalongan, Pemalang, Pekalongan, Majalengka, dan Brebes menjadi contoh nyata bagaimana gorengan menjadi bagian tak terpisahkan dari pola konsumsi masyarakat di Jawa.

Namun, di balik kelezatan dan kemudahan aksesnya, konsumsi gorengan yang berlebihan memiliki dampak negatif terhadap kesehatan. Lemak trans yang terkandung dalam minyak goreng yang digunakan secara berulang kali dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL), yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan metabolisme lainnya.

Ditambah lagi, pola konsumsi gorengan yang tinggi sering kali beriringan dengan rendahnya konsumsi sayur dan buah, yang berakibat pada meningkatnya risiko obesitas serta penyakit tidak menular lainnya. Mengingat dampak kesehatan yang ditimbulkan, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur pola makan dan mengurangi ketergantungan terhadap gorengan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi frekuensi konsumsi gorengan, menggantinya dengan makanan yang lebih sehat seperti camilan berbasis buah atau kacang-kacangan, serta memilih metode memasak yang lebih sehat yakni memanggang atau merebus.

Topik Menarik