Bahaya Masih Mengintai, Ini Tips Melindungi Anak Sekolah dari Dampak Polusi Udara!
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ahli medis dan peneliti Dr dr Erlina Burhan MSc SpP(K) memberikan peringatan kepada para orang tua yang memiliki anak sekolah, bahwa polusi udara masih ada. Oleh karena itu dr Erlina imbau orang tua melakukan langkah-langkah antisipasi.
Ini antisipasi yang bisa orang tua lakukan untuk melindungi anak dari dampak polusi udara:
Dokter Erlina imbau, orang tua agar menganjurkan anak memakai masker sepanjang jalan saat berangkat sekolah.
Harapannya pihak sekolah juga sudah memikirkan untuk menyediakan filter udara atau air purifier.
"Jadi menghidupkan AC tapi juga memakai filter udara supaya anak-anak yang biasanya berada di dalam kelas selama 4-6 jam bisa terhindar dari menghirup polutan yang berbahaya," kata dr Erlina, dikutip dari edukasi kesehatannya, Kamis (21/9/2023).
Untuk melindungi anak-anak, orang tua bisa komunikasikan kepada guru dan kepala sekolah untuk menciptakan suasana yang kondusif di dalam kelas.
Selain itu orang tua juga harus menjaga nutrisi anak agar dapat meningkatkan imunitas, batasi aktivitas di luar ruangan, sebagai gantinya orang tua bisa menemani anak beraktivitas di dalam ruangan.
"Prinsipnya biasakanlah memeriksa kualitas udara sebelum melakukan aktivitas. Sehingga bisa menghindari area sumber polusi yang tinggi," katanya.
Biasakan juga pakai masker dan hidup bersih. Lalu segera konsultasikan ke dokter jika orang tua dan anak ada keluhan pernapasan.
Pesan itu disampaikan dr Erlina karena efek polusi terhadap paru-paru tidaklah main-main. Tingkat keparahannya sendiri dipengaruhi berbagai kombinasi.
Tingkat keparahan efek polusi pada paru-paru tergantung pada kombinasi faktor yaitu tingkat dan durasi paparan, serta polutan spesifik yang ada. Selain itu tingkat keparahan efek polusi pada paru-paru juga tergantung pada status kesehatan individu dan kondisi paru-paru yang sudah ada sebelumnya.
"Lalu bagaimana polusi bisa pengaruhi paru-paru? Pertama, penurunan fungsi paru secara bertahap. Paru-paru tidak bisa menjalankan fungsinya dengan maksimal. Akibatnya ketahanan fisik dan kualitas hidup pun menurun," kata dr Erlina sebelumnya.
Kedua, peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), pneumonia, dan bronkitis karena melemahnya kekebalan. Anak-anak dan orang tua lebih rentan terhadap infeksi ini.
Ketiga, serangan asma lebih sering dan parah saat terpapar udara yang tercemar. Polusi udara dikenal sebagai pemicu serangan asma.
Paparan polusi tingkat tinggi dengan jangka waktu panjang dikaitkan dengan perkembangan penyakit paru-paru kronis seperti COPD atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Ditandai dengan keterbatasan aliran udara, bronkitis kronis, dan emfisema.
"Kelima, meningkatnya risiko kanker dari karsinogen di udara karena kontak yang terlalu lama. Keenam, gangguan perkembangan paru pada anak yang dapat bertahan hingga dewasa," papar peneliti Tuberkulosis (TB) ini.
Ketujuh, ada risiko komplikasi parah dan rentan, gejala pada orang yang telah memiliki kondisi paru-paru kurang baik, penyakit kardiovaskular, atau masalah kesehatan kronis lainnya.










