Cawe-Cawe Cegah Suksesi Tak Jatuh ke Oposisi

Cawe-Cawe Cegah Suksesi Tak Jatuh ke Oposisi

Gaya Hidup | BuddyKu | Sabtu, 10 Juni 2023 - 06:05
share
RADAR JOGJA SUSUHUNAN Paku Buwono (PB) I tak ingin kekuasaan di genggamannya lepas dari tangannya. Takhta jangan pernah bergeser ke trah
di luar keturunannya. Kembali ke trah Amangkurat III. Raja yang berkuasa
sebelumnya.
Karena itu, PB I merancang proses suksesi berlangsung mulus. Raja
sengaja ikut cawe-cawe. Dia mengantisipasi sejak dini agar kekuasaan
Mataram tak jatuh ke tangan oposisi. Terutama pada pendukung kakak
tirinya Amangkurat II maupun keponakannya Amangkurat III.
Raja yang sebelumnya bernama Pangeran Poeger itu ingin keberlanjutan
kepemimpinan terus terpelihara. Stabilitas politik, khususnya
pembangunan di Ibu Kota Negara (IKN) Kartasura harus terjaga.
Kalau takhta sampai berpindah tangan dan dikuasai lawan politiknya,
bisa mengancam ke banyak hal. Program yang tengah digagas PB
I bisa berantakan. Penggantinya tak mau melanjutkan. Lebih parah
lagi, keluarganya bisa menjadi tahanan politik. Dibuang ke mancanegara
seperti dialami Amangkurat III yang diasingkan ke Cylon atau Sri Lanka.
Kemajuan Negara Kesatuan Kerajaan Mataram (NKKM) selama 10 tahun terakhir harus dipertahankan. PB I ingin meninggalkan tetenger sekaligus warisan yang terus dikenang. Penunjukan anak sulungnya, Raden Mas Gusti (RMG) Suryaputra sebagai penerus tahkta harus diamankan. Tidak boleh ada riakriak apapun.
Mengamankan semua itu, sejumlah orang kepercayaan dan kerabat dekatnya ditempatkan di berbagai posisi penting. Ada yang menjadi panglima Tentara Nasional Mataram (TNM), kepala Bhayangkara Negara dan kepada Badan Intelejen Mataram (BIM).
Kemudian pradata ageng, semacam lembaga peradilan juga telah dikondisikan. Mahkamah keraton (MK) diisi para kerabat raja. Kini pradata ageng telah berubah wajah tak ubahnya seperti mahkamah keluarga.
Selama PB I bertakhta, Mataram mengalami tata titi tentrem. Tak ada pergolakan berarti. Namun setelah raja wafat, kondisi kerajaan cepat berubah. Lawan yang menggoyang kekuasaan bukan lagi oposisi di luar istana. Namun justru datang dari keluarga raja.
Keadaan itulah yang dihadapi Suryaputra yang menggantikan ayahnya dengan gelar Amangkurat IV atau Hamangkurat Jawi. Putra mahkota PB I ini tidak memakai gelar ayahandanya. Dia lebih memilih sebutan sebagaimana kakeknya. Mula-mula Amangkurat IV menghadapi perlawanan dari saudara tirinya, Pangeran Dipanegara. Dia putra PB I dari priyantundalem atau selir.
Semasa ayahnya berkuasa, Dipanegara mendapatkan tugas menumpas pemberontakan Arya Jayapuspita dari Surabaya. Saat hendak pulang ke Kartasura, Dipanegara mendapatkan kabar ayahnya wafat. Tak lama setelah itu, saudaranya diangkat menjadi raja. Dipanegara tak bersedia mengakui kepemimpinan Amangkurat IV.
Dia batal pulang ke Kartasura. Dipanegara mendeklarasikan diri sebagai raja bergelar Panembahan Herucakra. Keratonnya berada di Madiun. Dipanegara kemudian berkoalisi dengan Jayapuspita, orang yang seharusnya dia tangkap.
Belum selesai dengan perlawanan Dipanegara, Amangkurat IV juga berkonflik dengan adiknya, Pangeran Balitar dan Pangeran Purbaya. Raja baru mencabut hak-hak dan tunjangan kedua pangeran tersebut.
Tak terima, Balitar memutuskan keluar dari istana. Dia mengumumkan menjadi oposisi dari kakaknya. Sikap Balitar mendapatkan sokongan para ulama Mataram yang anti-VOC. Naik takhtanya Amangkurat IV tidak lepas dari intervensi Kompeni. Muak dengan situasi itu, para ulama menyatakan dukungan terhadap Balitar.
Dukungan juga datang dari Pangeran Purbaya. Bersama anak angkatnya, Pangeran Arya Mangkunegara (Kartasura), keduanya bergabung di barisan ulama dan Balitar. Mangkunegara sesungguhnya anak kandung Amangkurat IV. Namun dia lebih memihak ke paman yang juga ayah angkatnya.
Sayang, perlawanan saudara-saudara kandung Amangkurat IV mudah dipatahkan. Pasukan VOC berhasil memukul mundur. Balitar dan Purbaya kemudian meninggalkan Kartasura. Belakangan Balitar mendirikan markas perjuangan di Kerta, Pleret, Bantul.
Bekas ibu kota Mataram di era Susuhunan Agung Hanyakrakusuma itu dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Balitar. Dia mengangkat diri dengan gelar Sultan Ibnu Mustafa Paku Buwana. Kerajaannya disebut Mataram Kartasekar.
Masalah internal ini makin rumit. Adik PB I, Pangeran Arya Mataram juga keluar dari Kartasura. Putra Amangkurat I itu mengumumkan diri menjadi raja. Pusat kerajaannya di Pati. Mantan kepala BIM itu memakai sebutan Sunan Kuning atau Sunan Panutup.
Perang saudara di antara kerabat Mataram ini dinamakan Perang Suksesi Jawa II. Wilayah Mataram terbelah. Dikuasai beberapa penguasa. Kartasura di tangan Amangkurat IV. Dipanegara bertakhta di Madiun. Bekas istana Karta di bawah penguasaan Balitar dan Purbaya. Terakhir, wilayah Pati diduduki Arya Mataram.
Mereka semua bersaudara. Sama-sama trah Panembahan Senopati. Mereka bertikai soal suksesi. Cawe-cawe PB I dalam merancang suksesi dengan menyiapkan pengganti seolah-olah menjadi tidak berarti. (laz)

Topik Menarik