Makan di Luar Rumah Jadi Pencetus Hipertensi? Ini Kata Dokter
JAKARTA, celebrities.id - Aktivitas padat membuat kita seringkali mengonsumsi makanan di luar rumah. Namun, benarkan itu bisa menjadi pencetus hipertensi?
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH bahwa hipertensi berhubungan dengan kandungan garam yang dikonsumsi. Nah makanan yang anda makan di luar rumah lebih memungkinkan kadar garam tinggi.
Hal inilah tanpa disadari bisa jadi pencetus seseorang alami hipertensi karena hobi jajan atau makan di luar rumah.
"Fakta bahwa makan di luar rumah jadi salah risiko meningkatnya hipertensi. Umumnya mengandung banyak garam, karena berhubungan erat dengan hipertensi," ujar dr Tunggul dalam Konferensi Pers terkait Hari Hipertensi Sedunia di Jakarta, Rabu (17/5/2023).
Bahkan, dr Tunggul menjelaskan kalau bukan hanya makanan asin dikatakan tinggi garam. Bagi Anda suka, konsumsi manis juga bisa mengandung garam tinggi di dalamnya.
"Ada pasien saya itu suami yang baik karena istri ke luar jadi makan di luar. Jadi istri yang baik harus membekali suami, terus boleh makan di luar asal kandungan garamnya dan menjadi masalah kita mengira yang terasa asin jadi sumber garam padahal tidak," ucapnya.
Dengan demikian, dia menganjurkan agar setiap orang tua ataupun istri di Rumah bisa mencatat setiap kandungan garam di setiap makanannya. Guna bisa mengontrol asupan garam perharinya, yang kita tahu tak lebih dari 2000 mg natrium atau 5 gram yang sama dengan 1 sendok teh.
Hal yang perlu dipahami ialah hipertensi bisa menyebabkan kematian. Menurut dr Tunggul sering disebut sebagai penyakit mematikan secara diam-diam (silent killer).
"Jadi makannya dipilah walaupun tidak terasa asin juga kandungannya cukup tinggi, baiknya agar semua makanan itu ditulis dan batasan harian kita jadi sangat ketat. Jadi kalau kita mau konsumsi kalau kandungan garam tinggi jadi penyebab meningkatnya hipertensi," kata dr Tunggul.
"Ini masalah sangat besar dan kematiannya serta dampak. Penyakit ini dianggap tidak berbahaya karena tidak menular, jadi ini istilahnya silent killer dan diperkirakan akan terus meningkat tahun ke tahun," ucapnya.










