Diponegoro Meninggalkan Jejak Pohon Kemuning

Diponegoro Meninggalkan Jejak Pohon Kemuning

Gaya Hidup | netralnews.com | Jum'at, 30 September 2022 - 18:41
share

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Banyak yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya Diponegoro adalah sosok yang visioner untuk generasi mendatang agar kelak mengetahui nilai-nilai ( value ) perjuangannya. Untuk itulah Sang Pangeran menulis Babad Diponegoro versi Manado dan ketika berkobar Perang Jawa memerintahkan kepada para pengikutnya menanam pohon kemuning di setiap situs yang berkaitan dengan perjuangan Diponegoro.

Apa istimewanya pohon kemuning? Menurut Serat Salokapatra , pohon kemuning yang ditanam di lingkungan Keraton Yogyakarta karena mengandung filosofi yang tinggi. Untuk itulah Pangeran Diponegoro sangat familier dengan pohon kemuning.

Pohon ini mempunyai filosofi yaitu mengingatkan manusia agar selalu berbuat kebaikan. Pohon kemuning merupakan lambang kesucian hati sehingga selalu berpikiran jernih. Karena pohon kemuning mempunyai makna kesucian, kejernihan dalam berfikir maka Diponegoro memerintahkan untuk menanam pohon kemuning di setiap jejak-jejak yang terkait dengan perjuangannya.

Tujuan Diponegoro menanam pohon kemuning pertama, dirinya dan para pengikutnya akan selalu diingatkan kembali bahwa perjuangan yang dilakukan selama ini melawan Kolonial Belanda merupakan perjuangan yang suci fisabilillah yaitu berjihad karena Allah Swt, sehingga tidak boleh dicampur-adukkan dengan tujuan perjuangan yang lain, misalnya ingin memperoleh kedudukan, harta, wanita, dan kenikmatan duniawi lainnya.

Apalagi dicemari dengan perilaku yang merugikan rakyat yang sudah tertindas, seperti memaksa rakyat untuk menyetorkan pajak yang tinggi, bahkan merampok, dan mencuri milik rakyat dengan dalih untuk biaya perang.

Tujuan kedua dari Sang Pangeran menanam pohon kemuning adalah agar kelak setelah berganti zaman keturunan Diponegoro dan keturunan para pengikutnya, serta masyarakat umum mengetahui bahwa tempat itu dahulu pernah digunakan sebagai tempat persinggahan, tempat basis pertahanan, tempat menyusun strategi perang, dan tempat makam para pengikut Diponegoro.

Sebenarnya pohon kemuning juga memiliki fungsi luar biasa. Serat Salokapatra mengatakan pohon kemuning sering digunakan untuk keperluan hajat perkawinan. Daun kemuning sering digunakan untuk membuat lulur untuk pengantin wanita.

Cara membuatnya daun kemuning dicampur dengan daun pandan, temu giring dan beras kemudian dihaluskan. Pengantin wanita yang memakai lulur ini akan bercahaya dan setiap orang yang melihat akan memuji kecantikannya.

Daun kemuning juga digunakan untuk melengkapi pembuatan tarub dalam hajatan perkawinan adat Jawa. Ini dimaksudkan agar pengantin mempunyai perbuatan yang baik. Berikut salah satu bait Serat Salokapatra :

Supayentuk berkahe kemuning

kuninging malodong

dereng lulur wus akuning dhewe

kawimbuhan berkahe kemuning

saya wimbuh liding

singa mulat kyuyun

Artinya:

Agar mendapat berkah dari kemuning

kuningnya bercahaya

belum memakai lulur sudah kuning dengan sendirinya

karena ditambah berkahnya kemuning

bisa menambah kuningnya

setiap orang yang melihat akan tertarik

Menurut Serat Salokapatra , Sultan Mangkubumi juga menanam pohon kemuning di belakang Sitihinggil Keraton Yogyakarta. Filosofinya adalah kemuning diibaratkan sebagai wanita yang mempunyai makna bahwa wanita itu tempatnya di belakang pria.

Di kerajaan Mataram Islam dan kerajaaan penerusnya seperti Kesultanan Yogyakarta yang menganut paternalistik, wanita merupakan rahasia sehingga tidak ikut di depan. Berikut kutipan dari Serat Salokapatra :

Kemuning laras wanita

mila kapernah ing wuri

kapungkurken sela gilang

palenggahan dalem aji

sejati para putri

sayekti pinungkur kakung

kelamun munggeng parja

wanodya tuhu wewadi

datan tumut wanita tumameng ngarsa (pp XIII, 27).

Artinya:

kemuning seperti wanita

maka ditempatkan di belakang

di belakang sela gilang (singgasana)

tempat duduk raja

sebetulnya para wanita

sesungguhnya dibelakangi pria

namun kerajaan

wanita sebetulnya merupakan rahasia

wanita tidak ikut di depan.

Sang Pangeran sudah menunjukkan jejak-jejak perjuangannya. Generasi muda sekarang ini sebenarnya tidak perlu ragu lagi untuk memastikan makam pengikut Diponegoro, petilasan, situs, dan gua sebagai jejak-jejak Diponegoro.

Para keturunan Diponegoro, keturunan pengikut Diponegoro dan pemerhati sejarah perjuangan Diponegoro tinggal mencari apakah di sekitar situs itu ada pohon kemuning atau tidak. Apabila ditemukan pohon kemuning maka dapat dipastikan bahwa daerah itu adalah tempat bersejarah yang terkait dengan perjuangan Diponegoro.

Dengan adanya pohon kemuning, peneliti sejarah perjuangan Diponegoro, dan masyarakat umum tidak kehilangan jejak-jejak perjuangan yang seharusnya terus dihidupkan nilai-nilainya ( value ) kepada generasi bangsa agar semakin tumbuh jiwa nasionalismenya.

Penulis Lilik Suharmaji

Founder PUSAM (Pusat Studi Mataram) tinggal di Yogyakarta

Topik Menarik