BBM Naik, Pengusaha Konveksi di Lotim Keluhkan Harga Bahan Baku
SELONG -Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) telah dirasakan oleh sebagian besar pelaku industri kecil menengah di Lombok Timur. Salah satunya pelaku bisnis konveksi di Desa Selagik, Kecamatan Terara.
Desa Selagik sebagai sentra konveksi di NTB tentu terdampak oleh kenaikan harga BBM. Naiknya harga bahan menyebabkan biaya produksi bertambah, kata Kepala Desa Selagik Hamdan Firdaos pada awak media, Kamis (15/9).
Hamdan yang juga merupakan pelaku bisnis konveksi mengatakan, harga bahan baku berupa kain, benang, kancing, dan bahan lainnya mengalami kenaikan. Tidak hanya itu, pembayaran jasa menjahit juga harus dinaikkan seiring dengan bertambahnya jumlah pengeluaran masyarakat akibat inflasi.
Sementara untuk daya beli masyarakat atau pelanggan mereka yang sebagian besar berasal dari organisasi atau lembaga pemerintah sampai saat ini masih normal. Dampak atas hal tersebut dikatakan belum terlihat karena banyak alasan. Salah satunya beberapa usaha konveksi di Selagik yang belum menaikkan harga jasa pembuatan baju pesanan.
Kita berharap pemerintah memperhatikan para pelaku usaha konveksi di Selagik ini, jelasnya.
Hamdan menegaskan, Desa Selagik merupakan satu-satunya sentra industri konveksi di NTB. Di mana 80 persen warganya bekerja di bidang konveksi. Bentuknya bermacam-macam. Namun sebagian besar warga membuka jasa menjahit dengan hitungan pembayaran per pakaian yang dikerjakan.
Di masa pandemi Covid-19, para pelaku usaha sedikit masih bisa bertahan dengan adanya inisiatif dan inovasi memproduksi masker kain. Namun Hamdan menilai cukup akan kesulitan untuk mengatasi persoalan kenaikan harga BBM yang belum diimbangi oleh daya beli masyarakat.
Salah seorang warga Desa Selagik yang adalah pelaku usaha konveksi Candra Tailar Nurhasanah menjelaskan, harga kain untuk bahan pakaian naik sampai Rp 5 ribu per meter. Hal tersebut mau tak mau membuatnya harus meningkatkan harga jasa pembuatan pakaian.
Tapi pemesan kan belum berani dengan harga itu. Sehingga terpaksa keuntungan yang kita turunkan, jelasnya.
Sedangkan untuk jasa jahit untuk pekerjanya dikatakan belum bisa dinaikkan. Saat ini, ia masih menghitung Rp 10 ribu per baju. Hal itu dilakukan karena harga jasa belum sesuai dengan nilai beli pelanggannya.
Jika harga jasa bisa dinaikkan dan daya beli masyarakat mendukungnya, maka tentu gaji pekerja juga dapat dinaikkan, pungkasnya. (tih/r5)








