Filosofi Pendidikan di Sekolah INS Kayu Tanam Padang Menurut Moh Syafei
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Corak pendidikan Barat di Hindia Belanda bisa dikatakan hanya mementingkan segi intelektual dan bercorak verbalistis dan ditujukan untuk menghasilkan pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh si penguasa.
Walaupun demikian, kesadaran berpikir Barat yang logis mendapat tempat di dalam sistem pengajaran, salah satunya adalah INS Kayutanam. Lembaga ini ingin melaksanakan pengajaran praktik yang berasal dari rakyat dan untuk rakyat banyak.
Pendirian sekolah rendah INS Kayutanam di Padang tahun 1926 juga tidak terlepas dari upaya pemerintah Belanda untuk memenuhi tenaga kerja di kantor pemerintah atau perusahaan Belanda.
Hakikat Tujuan Pendidikan
Moh. Sjafei merumuskan dua tingkat tujuan pendidikan, yakni (i) tujuan yang bersifat tetap (permanen), atau ultiamate goal, dan (ii) tujuan yang bisa berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan/ atau arah atau tahap tertentu sebagaimana yang dinginkan dalam konteks waktu dan kebutuhan berbeda-beda.
Dalam merumuskan tujuan asasi pendidikan, Moh. Sjafei muda menyatakannnya kata-kata sebagai berikut: .... Dalam sekolah mereka diajar mengasah otak, dalam asrama mengasah budi, tenaga dan bakat. Dengan cara begini kita barulah kita dapat mencapai kemajuan bagi bangsa yang mampu mengurus bumi dan tanah air. (Sjafei, 1926).
Selanjutnya ia secara gamblang ia menyatakan tujuan pendidikan yang sebaik-baiknya bagi Indonesia sebagaimana yang difikirkannya untuk INS Kayutanam ialah pendidikan yang memerdekakan, yaitu membebaskan alam pikiran murid dari sekat-sekat alam dan manusia untuk mencapai gilang-gemilang lahir dan bathin (Sjafei 1956: 6).
Mengapa Moh. Sjafei merumuskan tujuan seperti itu dan apa latar belakang atau asumsinya?
Ini jelas berkait erat dengan konsepsinya tentang alam dan manusia. Konsepsi itu bersifat historis, dalam arti hasil interaksi dirinya dengan lingkungannya dalam perjalanan waktu, baik itu di lingkungan rumah tangga, maupun di lingkungan masyarakat kolonial dalam arti luas, dan lingkaran kaum pergerakan khususnya.
Konsepsi tentang Alam dan Manusia
Konsepsi filsafat pendidikan Moh. Sjafei bertolak dari pemahaman tentang alam dan manusia sebagai dunia kehidupan organis yang penuh arti. Alam adalah mahaguru kita di sekeliling kita ungkapnya.
Jika diperhatikan dengan sepenuh hati, demikan Sjafei, maka tampak dengan jelas ke arah mana pun juga mata ditujukan selalu bertemu dengan keaktifan. Kata keaktifan mengandung gerak atau dinamika yang tak pernah berhenti.
Ia memberi contoh dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, hewan, cakrawala perairan, angin dan sebagainya. Tanpa mencari-cari siapa yang mengadakan itu ia tidak menyatakannya, tetapi jelas maksudnya ialah Allah swt. Sesuai dengan keyakinan agamanya, Islam maka orang harus mengakui bahwa alam berisi jiwa keaktifan.
Alam Terkembang Jadi Guru
Jikalau sekiranya keaktifan di alam semesta ini berhenti maka musnahlah sekaliannya.
Sjafei lalu mengambil contoh dengan pengandaian bahwa sekiranya pada tanggal tertentu, katakanlah, pukul 12 tengah hari seluruh keaktifan di alam semesta berhenti, apakah yang akan kita alami?
"Oleh karena bumi tidak berputar lagi, jadi hanja diam pada tempatnya...., maka urat-urat kaju tidak mengambil makanannja dari dalam tanah, daun-daun tidak memasak makanannja, hewan-hewan tinggal diam sadja, angin tidak berhembus, hujan tidak turun. Maka di segala lapisan alam semesta keaktifan terhenti, diganti dengan kepasifan. Apakah jang akan terdjadi? Jawabnya ialah kemusnahan jang akan terjadi di seluruh alam semesta ini.
Manusia: Makhluk Berkeaktifan
Demikian juga halnya dengan alam manusia. Ia memilahkan manusia dalam dua kategori: manusia individual (perorangan) dan manusia sebagai kesatuan dalam masyarakat.
Pertama, berkenaan dengan keaktifan yang ada di dalam tubuh manusia seperti yang terlihat dari anatonomi organ tubuh: jantung, urat-urat sjaraf, darah, ginjal dan sebagainya. Semua bagian tubuh itu bekerja terus, sebab itulah maka manusia hidup, meskipun mata kita tidak melihat itu semuanja. Tetapi kita harus mengakui keadaan tersebut.
Kedua berkenaan dengan keaktifan yang ditimbulkan oleh masjarakat manusia. Dalam hal ini, Sjafei melihat perkembangan masyarakat dalam hukum tiga taraf. Mirip dengan hukum tiga tahap dari Comte, yang menggambarkan tiga tahap perkembangan kebudayaan manusia dalam tiga zaman berbeda dalam taraf hidup masing-masingnya,
Sjafei juga menggambarkan perkembangan kebudayaan melalui tingkat keaktifan masyarakat dalam tiga taraf yakni, pertama: taraf hidup sederhana, kedua: taraf hidup sudah agak lebih maju, ketiga: taraf hidup lebih tinggi.
Konteks Historis Pendidikan INS
Menurut Moh. Sjafei, pertumbuhan ilmu dalam sejarah Timur dan Barat memiliki perbedaan nyata. Orang Timur banyak mempergunakan waktunya untuk ilmu kebathinan, sedangkan orang Barat banyak melakukan usaha untuk memperdalam ilmu keduniaan (sekuler). Keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda pula.
Di Timur berkuasa ilmu gaib atau metafisika, Barat menguasai ilmu bendawi (fisika). Sebenarnya, baik di Timur, maupun di Barat pada mulanya sama-sama mengenal ilmu kebathinan. Ini misalnya terlihat dari hukum tiga tahap Comte, yaitu apa yang disebutnya fase metafisis.
Operasional INS Kayutanam
MNC Insurance Berikan Perlindungan untuk Mahasiswa CIMSA Univetas Lampung Lewat e-Card Asuransi
Pada zaman penjajahan Belanda, INS Kayutaman memiliki 75 siswa dengan pengantar bahasa Indonesia. Tahun 1939 lembaga ini telah berhasil membangun gedung sekolah lengkap dengan asrama dan perumahan guru. Biaya operasional ISN ini diperoleh dari hasil penjualan dari berbagai kerajinan siswa dan kreativitas lainnya, seperti menggelar pertunjukkan.
Lembaga ini tidak mau menerima subsidi dari pihak mana pun, termasuk dari pemerintah Belanda. Tahun 1941 ketika pecah Perang Dunia II, INS Kayutaman diduduki secara paksa oleh Belanda sehingga proses pembelajaran terhenti.
Meskipun INS berseberangan bahkan bertolak belakang dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda, namun karena Belanda membutuhkan lulusan-lulusan INS dalam rangka memenuhi kebutuhan pegawai rendahan perusahaan-perusahaan Belanda, maka Belanda tetap mentolerir keberadaan INS, meskipun dengan pengawasan yang ketat.
Apabila dicermati, penyelenggaraan program pendidikan INS Kayu Tanam yang dioperasionalkan dalam pendidikan dan pembelajaran bagi para siswanya, menunjukkan sebuah pendidikan humanis yang mengedepankan layanan subjek didik dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di sisi lain, dalam kegiatan pendidikan dan pembelajarannya kurang begitu terlihat secara eksplisit bagaimana pendidikan religius dioperasionalkan di lembaga pendidikan ini.
Moh. Sjafei dalam mengembangkan rancangan pembelajaran dan metode pembelajaran mengacu pada pandangan Dewey dan Kerschensteiner, sehingga seolah-olah pendidikan religius dalam operasionalnya kurang nampak secara eksplisit.
Namun demikian, secara implisit pendidikan religus diwadahi di dalam beberapa program pendidikan yang diselenggarakan INS Kayu Tanam.
Program pendidikan yang humanis, tercermin pada beberapa program pendidikan yang diselenggarakan INS Kayu Tanam, dapat dilihat pada wadah-wadah kegiatan antara lain sebagai berikut:
1. Program pemberantasan buta huruf.
2. Mengutamakan pendidikan keterampilan-kerajinan dengan mengutamakan pekerjaan tangan dan sejenisnya.
3. Siswa mendapat banyak latihan mempergunakan tangannya dan membuat barang-barang yang berguna bagi keperluan hidup sehari-hari. Pelajaran ekspresi yaitu menggambar, menyanyi, dan pekerjaan tangan, olah raga dan kesenian sangat dipentingkan.
Ketiga program tersebut sesuai dengan prinsip pendidikan humanis untuk membantu manusia agar lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang.
Melalui pendidikan keterampilan maupun kerajinan tangan dapat memupuk minat maupun kemampuannya serta potensi anak didik yang lain, misal: anak menjadi terampil, cekatan, dan kreatif. Itu semua sangat dibutuhkan untuk penghidupannya sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Di samping itu, program pendidikan yang diselenggarakan INS Kayu Tanam yang dapat mengembangkan pendidikan religius tercermin dalam kegiatan yang mengajarkan kepada anak didik suatu pekerjaan yang sesuai dengan pembawaan dan kemauannya untuk penghidupannya nanti, dengan harapan dapat membentuk pemuda-pemuda Indonesia yang tegak sendiri, berusaha sendiri, hidup bebas dan tidak bergantung buat seumur hidupnya pada pemerintah.
Hal ini dapat dimaknai bahwa dengan memperhatikan aspek pembawaan, tegak sendiri untuk hidupnya, dan menghargai hidup bebas pada diri anak didik, dapat mengembangkan potensi spiritual mereka untuk kehidupan nantinya, sehingga akan menguatkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Penulis: Wahyudi Azharief, M.Pd.
Ketua AGSI DI Yogyakarta










