Three Kingdom: Mengapa Hanya Jepang yang Masih Monarki?
MALANG, NETRALNEWS.COM - Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah menerangkan diakronisme dalam rentang waktu sejarah.
Diakronisme sendiri memiliki definisi bahwa dalam waktu episode sejarah terdapat lebih dari satu peristiwa sejarah, sebagai contoh, abad ke-16 ditandai dengan peristiwa Reconquista di Eropa yang mana penduduk Muslim di Semenanjung Iberia diusir oleh Kerajaan Spanyol dan Portugal.
Kedua negara ini merupakan pilar bagi Kristen Katolik dan dengan demikian mendapatkan restu dari Paus untuk menjelajah keluar Eropa, hasil dari penjelajahan Spanyol dan Portugis adalah penemuan jalur rempah serta Benua Amerika berikut kolonisasi yang terjadi di kedua tempat yang ditemukan tadi.
Contoh lain dari diakronisme dapat ditemukan di wilayah Asia Timur. Sejarah mencatat bahwa pada abad ke 19, Cina, Jepang dan Korea masih diperintah oleh seorang raja.
Akan tetapi pada abad ke-20, 2 dari 3 monarki tersebut terhapuskan dari peta politik dunia serta hanya menyisakan Wangsa Yamato dari Jepang yang masih bertahan apa gerangan yang terjadi?
Restorasi Meiji
Wangsa Yamato telah memerintah Jepang sejak 660 sebelum Masehi. Meskipun sejarawan masih memperdebatkan kebenaran eksistensi 25 kaisar pertama yang memerintah, mereka tidak membantah bahwa dinasti ini merupakan dinasti hereditary tertua yang masih eksis di dunia. Faktor yang menjadikan umur panjang monarki Jepang dapat diketahui dari masa pemerintahan Kaisar Meiji.
Restorasi Meiji merupakan peristiwa politik di kelas Samurai, yang pada masa itu diwakilkan oleh Keshogunan Tokugawa, mengembalikan kekuasaan kepada kaisar.
Sejarawan serta penulis terkenal Jared Diamond dalam bukunya Upheavel menjelaskan bahwa klan Chosu dan Satsuma yang dahulunya menjadi pendukung Shogun, menarik dukungan mereka karena Klan Tokugawa yang berkuasa diarasa tidak mampu untuk melindungi Jepang dari bangsa asing, yaitu Amerika, yang merangsek masuk ke wilayah mereka.
Kedua klan ini kemudian memerangi klan Tokugawa dalam Perang Boshin yang mana melenyapkan sistem feodal berikut golongan Samurai. Selain itu, adapun sang penulis menjelaskan bahwa reformasi ini dilakukan untuk menghindarkan Jepang agar tidak bernasib sial seperti Cina yang babak belur oleh invasi asing seperti Inggris dan Prancis dalam 2 Perang Candu serta pemberontakan Taiping.
Mengingat pelanggaran wilayah oleh Amerika dan kekalahan Cina, Jepang berkomitmen untuk melakukan industrialisasi serta modernisasi dengan mengirimkan pelajarnya keluar negeri beikut mendatangkan ahli dari luar negeri untuk membantu agenda mereka.
Gerakan Penguatan Diri
Kesuksesan Jepang dalam memodernisasi negara memberikan domino effect bagi tetangganya, terutama di Cina dan Korea. Dalam buku Republik Tiongkok karya Michael Wicaksono, di Cina ada peristiwa sosial politik serupa dengan restorasi Meiji yang dikenal sebagai Gerakan Penguatan Diri.
Gerakan Penguatan Diri merupakan usaha dinasti Manchu untuk mencegah ketertinggalan Cina dari bangsa Barat dengan memaparkan Negeri Tirai Bambu tersebut kepada ilmu pengetahuan modern yang akan membantu Cina dalam memajukan aspek teknologi, ekonomi, dan politik negara itu.
Sayangnya gerakan politik ini tidak memberikan hasil yang serupa dengan Jepang karena kurangnya komitmen dari para penguasa Manchu sendiri. Dinasti Manchu tidak memiliki kaisar yang memerintah secara efektif setelah 1861, yang ada hanyalah kaisar-kaisar cilik yang menjadi boneka para wali raja.
Wali raja yang paling terkenal adalah ibu suri Cixi; Cixi merupakan figure yang kontroversial. Ia merupakan inisiator dari Gerakan Penguatan Diri, akan tetapi ia tidak memberikan dukungan penuh dan hanya berfokus pada modernisasi ekonomi berikut teknologi.
Tidak adanya modernisasi di bidang politik menyuburkan feodalisme di Cina, alhasil Gerakan Penguatan diri ini gagal akibat korupsi dan konflik internal istana.
Reformasi Gwangmu
Bagi Jepang, Korea merupakan sebuah belati yang ditusukan ke dada Cina. Secara historis, semenanjung Korea merupakan area yang memiliki nilai yang strategis, diapit oleh Cina dan Jepang.
Hal ini terlihat dari Bangsa Mongol yang menjadikan Korea sebagai batu loncatan untuk menyerbu Jepang pada abad ke-13 atau pijakan oleh Jepang untuk menginvasi Cina pada akhir abad 16.
Penggunaan Semenanjung Korea sebagai batu loncatan kembali terjadi ketika Amerika Serikat serta Jepang melanggar batas wilayah territorial Korea dalam misi dagang mereka ke Cina.
Wangsa Joseon yang memerintah Korea telah mengalami kemunduran bertahap sejak invasi Jepang pada abad-16, korupsi dan perpecahan internal merajalela.
Isu pelanggaran wilayah ini memecah internal istana menjadi faksi konservatif yang cenderung mendukung Cina dan faksi modernis yang cenderung mendukung Jepang.
Mengutip kembali buku karya Wicaksono, Korea secara berabad-abad merupakan negara bawahan Cina dan bergantung kepada tetangganya yang lebih besar tersebut untuk perlindungan.
Ketika Pemberontakan Petani Donghak meletus pada 1894, Kekaisaran Qing mengirimkan pasukannya untuk melindungi Korea. Pengiriman pasukan Cina menjadi alasan bagi Jepang untuk turut menerjunkan pasukannya ke lapangan demi melindungi kepentingannya.
Cina dapat dengan mudah dikalahkan oleh Jepang karena komando militer mereka yang masih tertinggal.
Perang Cina-Jepang berakhir pada 1895 ketika perjanjian Shimonoseki ditandatangani; salah satu isi dari penandatanganan tersebut adalah pengakuan kemerdekaan politik untuk Korea, yang mana menjadi celah bagi Jepang untuk menguasai Korea.
Selama masa perang, Jepang membunuh anggota wangsa Joseon yang kontra terhadap tindakannya; salah satu yang paling terkenal adalah Permaiasauri Myeongseong yang moderat.
Myeongseong dibunuh oleh Jepang karena ia mencari alternatif untuk memodernkan negaranya serta menghindari pengaruh Jepang.
Meskipun Jepang membunuhi banyak anggota penting dari wangsa Josen, sang kepala keluarga kerajaan, raja Gwangmu berhasil melarikan diri ke kedutaan Rusia.
Permintaan perlindungan Gwangmu kepada pihak Rusia menjadi hambatan bagi Jepang untuk menguasai Korea.
Gwangmu memprolakmasikan pendirian Kekaisaran Korea Raya pada tahun 1897. Selama 10 tahun masa jabatannya, Korea bergantung pada kekuatan Eropa untuk memodernisasikan negara berikut menjaga kemerdekaannya dari Jepang.
Sayangnya, modernisasi itu terhenti mulai pada tahun 1905, ketika Rusia yang menjadi jaminan keamanan Korea dikalahkan oleh Jepang. Kekalahan Rusia pada Perang Rusia Jepang memberikan kesempatan bagi Jepang untuk mencaplok Korea 5 tahun kemudian.
Penulis: Muhamad Wafi Fahriawan
Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang









