Pendapatan Pasar Video Game China Capai $45,5 Miliar Selama 2021, Bagaimana dengan Indonesia?

Pendapatan Pasar Video Game China Capai $45,5 Miliar Selama 2021, Bagaimana dengan Indonesia?

Gaya Hidup | netralnews.com | Rabu, 25 Mei 2022 - 09:26
share

BEIJING, NETRALNEWS.COM - Perusahaan game internasional Tiongkok menghasilkan sekitar $17,3 miliar, naik 27% dari tahun ke tahun

Pekan lalu Niko Partners melaporkan bahwa pendapatan pasar video game domestik China mencapai $45,5 miliar selama tahun 2021.

Data dari Laporan Pasar Game Seluler China dan Laporan Pasar Game PC China yang dikutip dari Straitstimes mengatakan bahwa, tahun ini telah mengalami peningkatan sebesar 5% dari tahun ke tahun.

Game seluler menghasilkan $31,8 miliar, sedangkan game PC menghasilkan $13,7 miliar selama tahun 2021.

Laporan itu mengatakan bahwa perusahaan game internasional Tiongkok itu setidaknya menghasilkan $17,3 miliar pada tahun 2021, naik 27% dari tahun ke tahun.

"Dalam setahun terakhir kami telah menyaksikan para gamer menghibur diri mereka sendiri dengan nostalgia dan permainan baru selama lockdown pandemi, kami telah menyaksikan para gamer muda mengucapkan selamat tinggal pada hobi utama karena peraturan yang membatasi jam mereka untuk bermain game ..." kata pendiri dan presiden Niko Partners Lisa Hanson.

Selain itu, mitra Niko mengatakan bahwa pendapatan video game domestik China siap mencapai $55 miliar pada tahun 2026.

Sementara pendapatan perusahaan game China di luar negeri diproyeksikan akan mencapai $26,4 miliar sepanjang tahun ini.

Data dari Mortor Intellegence mengatakan bahwa pasar game di dunia bernilai USD 198,40 miliar pada tahun 2021, dan diperkirakan akan mencapai nilai USD 339,95 miliar pada tahun 2027, yang didominasi oleh para pecinta game di Asia-Pasifik.

Lockdown akibat pandemi Covid-19, tulis laporan tersebut, telah membuat masyarakat beralih ke platform game untuk menghabiskan waktu. Dengan demikian, platform ini menarik ratusan dan ribuan pengunjung baru ke lalu lintas online. Baru-baru ini, tren video game mengalami lonjakan besar dalam pemain dan pendapatan.

Kemajuan teknologi berkelanjutan dalam industri game secara signifikan mendorong pertumbuhan industri. Mereka meningkatkan cara game dibuat dan meningkatkan pengalaman bermain game pengguna secara keseluruhan.

Pengembang game di negara berkembang terus berupaya untuk meningkatkan pengalaman bermain game dengan meluncurkan dan menulis ulang kode untuk beragam konsol atau platform, yang digabungkan ke dalam produk mandiri yang disediakan untuk para gamer melalui platform cloud.

Meningkatnya konektivitas internet, meningkatnya adopsi smartphone, dan munculnya konektivitas jaringan bandwidth tinggi, seperti 5G, semakin meningkatkan permintaan pasar game di seluruh dunia.

Lebih lanjut, menurut laporan GSMA, per November 2021, 170 operator seluler telah meluncurkan layanan 5G komersial dengan penetrasi populasi 7% pada akhir tahun 2021, sehingga membuka peluang baru bagi vendor seluler untuk memperkenalkan smartphone 5G di pasar.

Selanjutnya, menurut statistik yang diterbitkan oleh DataReporal, jumlah pengguna internet meningkat 7,7% pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020. Apalagi, mereka meningkat sebesar 4% menjadi 4.950 juta pada Januari 2022 dibandingkan dengan Januari 2021, ketika pengguna berjumlah 4.758 juta.

Diketahui, layanan game cloud berfokus pada peningkatan kemampuan cloud skala besar, layanan media streaming, dan jaringan pengiriman konten global untuk membangun platform hiburan sosial generasi berikutnya. Faktor-faktor ini memiliki dampak positif yang diantisipasi pada pertumbuhan pasar.

Selain itu, memanfaatkan teknologi cloud di pasar game kemungkinan akan mendorong permintaan dan keterlibatan multi-pemain untuk berbagai game, meningkatkan pertumbuhan pasar selama periode perkiraan.

Sementara itu, Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar game terbesar di Asia Tenggara dan menduduki peringkat 16 di dunia.

"Pada tahun 2020, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyampaikan, bahwa industri game di Indonesia berhasil menyumbang Rp 24,88 triliun atau 2,19% kontribusi dari total PDB nasional," ungkap Johnny dalam sambutannya di acara IGDX Conference 2021, dikutip dari detik .

Ia menambahkan, menurut laporan yang diperoleh, di level global tahun 2021, valuasi industri game di dunia saat ini telah mencapai nilai sebesar USD 300 miliar atau sekitar Rp 4,2 kuadriliun. Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi salah satu akselerator perkembangan game di Tanah Air.

"Data dari We Are Social dan Hootsuite tahun 2021, mengungkapkan 46% responden di Indonesia mencoba game online, untuk pertama kalinya akibat pandemi," ujar Johnny.

Kendati begitu, ia menyayangkan pada tahun 2020 baru 0,4% industri lokal, yang berkecimpung di pasar game Tanah Air. Di mana industri asing masih mendominasi pasar nasional.

Hal senada disampaikan oleh CEO Anantarupa Studios, Ivan Chen yang mengatakan, potensi industri game terutama e-sport memang sangat besar sekali. Sebab industri game e-sport adalah industri digital nomor 1 di dunia yang besarnya empat kali lipat dibanding industri film dan animasi dengan pertumbuhan 19% per tahun.

"Kalau di Indonesia belum (maksimal), karena Indonesia kalau kita bicara dengan e-sport ini hanya bicara tentang tim even e-sportnya aja, tapi komoditasnya belum digarap. Jadi lebih 99,9% market lokal itu game nya masih asing," ujar Ivan dalam Power Breakfast IDX tahun 2021 yang dikutip dari IDX channel.

Menurut Ivan, Indonesia sekarang hanya dipandang sebagai market terbesar e-sport dengan 175 juta pemain, jadi setengah penduduk Indonesia main game.

"Tapi potensi terbesar ada di nilai ekonominya, kita bisa enggak dari market berapa persen tersebut yang dikelola game developer kita? itu yang jadi challenge-nya, jangan sampai kita jadi market terbesar tapi kita tidak menghasilkan sesuatu dari industri yang besar ini," jelas Ivan.

Topik Menarik