Prabowo Ingin Harga Pangan Tidak Naik Selama Natal 2026 dan Tahun Baru 2027
JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan harga pangan tidak boleh mengalami kenaikan selama periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Pemerintah justru mengharapkan harga pangan turun agar masyarakat tidak terbebani lonjakan harga kebutuhan pokok pada akhir tahun.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan, arahan tersebut sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto agar harga pangan tetap terkendali selama momentum Nataru.
“Prinsipnya Presiden ingin Nataru, Natal dan Tahun Baru itu tidak boleh ada kenaikan harga pangan. Justru yang diharapkan sebenarnya penurunan harga pangan,” ujarnya dalam keterangan resminya, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Andriko menegaskan, upaya menjaga harga pangan harus dibarengi dengan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Pemerintah juga akan memperkuat pengawasan untuk mencegah praktik spekulasi harga, khususnya pada komoditas beras.
Transaksi Kripto di RI Tembus Rp171 Triliun, Literasi hingga Perlindungan Konsumen Jadi Sorotan
“Jadi harus pastikan stabil harganya, stabil pasokannya. Tidak boleh orang mempermainkan harga beras karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas Andriko.
Berdasarkan laporan manajerial Perum Bulog per 29 Oktober 2026, stok beras nasional sendiri tercatat mencapai 4.585.074 ton. Jumlah tersebut terdiri atas Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 4.560.508 ton dan stok komersial sebesar 24.565 ton.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, mengatakan dukungan stok Bulog dan penyaluran beras SPHP menjadi salah satu instrumen penting untuk mencegah kenaikan harga pangan menjelang Nataru.
"Bulog itu kalau misalnya harus mengadakan itu kan punya potensi besar. Stok berasnya lumayan, SPHP-nya cukup banyak, sehingga kita sama-samalah bergerak bareng-bareng supaya di Nataru ini tidak terjadi gejolak harga, khususnya untuk kenaikan," ujar Heru.









