Airlangga Respon Ancaman Downgrade Bursa Saham RI: MSCI Bukan Satu-satunya Rating
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan perkembangan asesmen Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, isu MSCI murni berkaitan dengan tata kelola perdagangan (governance of trading market), khususnya porsi saham beredar di publik (free float), bukan dipicu oleh masalah fundamental ekonomi maupun kinerja emiten.
Airlangga mengatakan, peta jalan (roadmap) reformasi pasar saham yang dirancang otoritas keuangan telah diterima oleh pihak MSCI. Tantangan utama saat ini adalah mengeksekusi tahapan reformasi tersebut secara konsisten, termasuk pemenuhan batas minimum free float sebesar 15 serta penanganan saham-saham yang masuk dalam daftar pantau.
"Yang kemarin kami bilang bahwa program daripada reformasi capital market itu sudah diterima. Tinggal sekarang implementasi dari program tersebut," ujar Menko Airlangga saat ditemui awak media di kantornya, Jumat (23/10/2026).
Baca Juga: Prabowo Kirim Pesan ke MSCI: Indonesia Tidak Takut Siapapun!
Airlangga menegaskan, bahwa kinerja fundamental emiten di bursa domestik tetap berada dalam kondisi tebal dan sehat, baik dari sisi pencapaian laba bersih maupun konsistensi pembagian dividen. Oleh sebab itu, ia meminta publik melihat persoalan MSCI secara jernih."Bagi Indonesia yang penting ini bukan kaitannya dengan fundamental ekonomi, bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market, khusus untuk saham yang free float," jelas Airlangga.
Airlangga menambahkan bahwa Indonesia masih memiliki rentang waktu hingga Juni 2027 untuk merampungkan seluruh agenda perbaikan. Selama tenggat konsultasi tersebut, setiap tahapan kemajuan reformasi, termasuk rencana demutualisasi bursa, harus dikomunikasikan secara transparan kepada publik.
Baca Juga: Mantan Mendag Tuding Ada Manuver Asing Tekan MSCI, Bos BEI Angkat Suara
Di samping itu, Airlangga mengingatkan bahwa MSCI bukan satu-satunya penyedia indeks internasional yang menjadi rujukan para pengelola dana global. "MSCI bukan satu-satunya rating. Banyak rating lain, ada S&P, FTSE Russell. Jadi, yang satu tidak bisa mendikte yang lain," tegas Airlangga.
Ia menilai potensi risiko dari penilaian MSCI masih dapat dimitigasi karena investor global memiliki opsi acuan indeks lain seperti FTSE maupun S&P. Meski demikian, pemerintah tetap mengantisipasi dinamika arus investasi yang bergantung pada mandate masing-masing pengelola portofolio.
Mencermati pergerakan bursa dalam tiga hari terakhir yang mulai menunjukkan tren positif, Airlangga mengapresiasi langkah cepat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengawal reformasi pasar modal nasional demi memperkuat transparansi dan perlindungan investor.




