Raup Pendapatan USD110 Juta, PBV Sat Nusapersada (PTSN) di Bawah 1
IDXChannel – PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) membukukan pendapatan sebesar USD110,32 juta.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum diikuti peningkatan laba. PTSN mencatatkan laba tahun berjalan sebesar USD6,74 juta pada semester I-2025.
Mengutip laporan keuangan perseroan Jumat (23/10/2026), kenaikan pendapatan diikuti peningkatan beban pokok pendapatan menjadi US94,96 juta. Kondisi ini membuat laba kotor PTSN turun menjadi US15,35 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan itu, margin laba kotor perseroan menyusut dari 13,9 persen menjadi 8,1 persen. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan belum diikuti kemampuan menghasilkan laba kotor dengan proporsi yang sama.
Dari sisi beban, PTSN mencatatkan beban usaha sebesar US7,22 juta pada semester I-2025. Perseroan juga membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar USD592.288, berbalik dari keuntungan USD79.324 pada periode sebelumnya.
Sementara itu, beban keuangan meningkat menjadi USD622.156. Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak PTSN turun menjadi USD8,64 juta pada semester I-2025. Setelah dikurangi pajak penghasilan sebesar USD4,69 juta.
PBV PTSN di Bawah 1 Kali
Di pasar saham, pergerakan PTSN turut menjadi perhatian setelah sahamnya menguat tajam. Di mana pada Jumat (23/10/2026), saham PTSN naik 24,46 persen ke level Rp346.
Kenaikan saham PTSN tersebut terjadi di tengah munculnya wacana pemerintah membagikan ponsel gratis kepada sedikitnya 25 juta warga dewasa yang masuk kelompok desil 1–4.
Rencana tersebut dikaitkan dengan upaya melengkapi rekening digital untuk penyaluran bantuan sosial dan bantuan langsung tunai (BLT).
Jika harga per unit Rp1,1 juta saja, maka dibutuhkan biaya pengadaan sekitar Rp27,61 triliun untuk program tersebut. Jumlah ini cukup besar dan akan memberikan keuntungan bagi PTSN. PTSN disebut menjadi pihak yang diuntungkan untuk assembly dan production program tersebut.
Di luar sentimen pasar, valuasi perseroan juga menarik dicermati. Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346 pada penutupan perdagangan 22 Oktober 2026, rasio harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) PTSN diperkirakan berada di level 0,79 kali.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, PBV di bawah 1 kali tidak serta-merta menunjukkan saham berada dalam kondisi undervalued atau memiliki harga yang lebih rendah daripada nilai wajarnya.
“Mencermati laporan keuangan PTSN per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346, estimasi PBV PTSN berada di sekitar 0,79 kali. Namun demikian, PBV di bawah 1 kali tidak serta-merta saham tersebut dapat dikatakan undervalued,” ujar Herditya dikutip risetnya Jumat (23/10/2026).
Menurut dia, penilaian valuasi saham perlu mempertimbangkan perkembangan kinerja keuangan perseroan, terutama kemampuan menjaga margin dan meningkatkan laba. Hal ini menjadi penting karena pertumbuhan pendapatan PTSN pada semester I-2026 belum diikuti perbaikan profitabilitas.
“Menurut kami, valuasi PTSN perlu dicermati bersamaan dengan kemampuan perusahaan menjaga margin, meningkatkan laba, dan memperbaiki arus kas operasional,” kata Herditya.
Dengan demikian, PBV di bawah 1 kali menunjukkan bahwa saham PTSN diperdagangkan di bawah nilai bukunya berdasarkan asumsi harga yang digunakan. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kinerja keuangan perseroan, termasuk kemampuan mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan memperbaiki profitabilitas.
(kunthi fahmar sandy)
