Hindari Investasi Bodong, Anak Muda Diingatkan Pegang Prinsip Ini
MNC Sekuritas mengingatkan generasi muda agar lebih cermat membedakan peluang investasi dengan sekadar Fear of Missing Out (FOMO) di tengah berkembangnya investasi digital. Pemanfaatan teknologi, penguatan literasi, dan kedisiplinan dinilai dapat membantu calon investor mengambil keputusan secara lebih rasional.
Head of Product Management Community and Partnership MNC Sekuritas Luqman El Hakiem mengatakan perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat menilai informasi dan peluang investasi secara lebih objektif.
“Dengan adanya teknologi informasi berbasis AI, ini membuat orang menjadi lebih rasional. Lebih rasional, lebih objektif, dan juga bisa lebih menilai,” ujar Luqman dalam sesi “Next Gen Playbook: Money, Tech, Creator, Future” pada rangkaian iNews Campus Connect 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga:Investasi dan Self-Reward, Begini Cara Mengatur Keuangan bagi Generasi Muda
Menurut Luqman, masyarakat perlu menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis, sebelum mengikuti suatu tawaran investasi. Setelah memastikan aspek legalitas, calon investor juga perlu menggunakan penalaran untuk menilai apakah potensi keuntungan yang ditawarkan masuk akal. “Kalau sesuatu yang sudah legal, kita berusaha pakai logika kita,” katanya.
Ia mencontohkan tawaran investasi saham yang menjanjikan keuntungan 100 dalam satu hari. Klaim semacam itu perlu dicermati secara rasional agar calon investor tidak mudah tergoda oleh iming-iming keuntungan yang fantastis. Hal serupa juga berlaku pada aset kripto yang memiliki potensi keuntungan sekaligus risiko kerugian yang besar, tergantung pada aset yang dipilih.
“Jadi untuk mencegah FOMO, yang pertama tadi kita sudah menggunakan teknologi informasi, menggunakan AI. Kunci barrier yang terakhir adalah apakah ini logis secara penalaran kita,” tuturnya.
Baca Juga:ICC 2026 Bahas Pentingnya Mahasiswa Sampaikan Pandangan Berbasis Data
Luqman menilai FOMO tidak sepenuhnya dapat dihilangkan, tetapi dapat dikendalikan melalui peningkatan literasi sebelum seseorang mengambil keputusan investasi. Ia mengingatkan masyarakat untuk memahami cara kerja produk, risiko, serta syarat dan ketentuan sebelum membeli atau menggunakan suatu instrumen investasi, alih-alih hanya mengikuti informasi dari teman, influencer, atau media sosial.
“Literasi dulu, kemudian yang kedua pemanfaatan tools dalam bentuk AI, kemudian yang ketiga kedisiplinan,” kata Luqman. Melalui sesi tersebut, mahasiswa Untar diajak memanfaatkan teknologi bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup digital, tetapi juga sebagai alat untuk mengelola keuangan secara lebih kritis dan menyaring berbagai peluang investasi.










