Hadapi Gejolak Harga Energi dan Suku Bunga Global, Ini Strategi Kemenkeu

Hadapi Gejolak Harga Energi dan Suku Bunga Global, Ini Strategi Kemenkeu

Ekonomi | sindonews | Senin, 28 September 2026 - 15:50
share

Pemerintah memperkuat ketahanan fiskal dan sektor keuangan untuk menghadapi berbagai guncangan global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah tersebut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya risiko geopolitik, disrupsi teknologi, fragmentasi keuangan, dan kompleksitas rantai pasok global.

"Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan; melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan," ujar Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Baca Juga:Harga Minyak Dunia Meroket Lagi usai Trump Tolak Mentah-mentah Proposal Damai Iran

Juda mengatakan berbagai risiko global kini semakin saling terhubung sehingga satu guncangan dapat memicu dampak berantai terhadap perekonomian. Ketegangan geopolitik, misalnya, dapat mengganggu pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga energi yang kemudian berdampak pada inflasi, suku bunga global, arus modal, nilai tukar, biaya pembiayaan, hingga pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, tantangan pemerintah tidak lagi sebatas menjaga stabilitas ketika terjadi ketidakpastian, tetapi juga membangun kapasitas institusi agar mampu menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan tetap menjalankan fungsi perekonomian. Dalam kondisi tersebut, kebijakan fiskal perlu berperan sebagai shock absorber sekaligus menopang aktivitas ekonomi.APBN, lanjut Juda, harus mampu melindungi masyarakat dan mendukung kegiatan produktif ketika risiko meningkat, dengan tetap menjaga disiplin, kredibilitas, dan keberlanjutan fiskal. Pendekatan tersebut diperlukan agar respons pemerintah terhadap gejolak eksternal tidak mengganggu ketahanan fiskal dalam jangka panjang.

Di sisi lain, ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Sistem keuangan perlu tetap stabil dan efisien, sekaligus semakin dalam dan inklusif sehingga mampu menyediakan sumber pembiayaan yang beragam serta mengarahkan modal ke sektor-sektor produktif.

Juda menilai peran perbankan juga perlu berkembang dari sekadar menyalurkan kredit menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, mendukung UMKM, mendorong inovasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing. Sementara itu, transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial perlu diikuti dengan tata kelola serta manajemen risiko yang kuat.

Baca Juga:APBN Harus Jadi Shock Absorber, Wamenkeu Juda Agung: Ketahanan Bukan Tanpa Guncangan

Untuk memperkuat ketahanan tersebut, koordinasi kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, dan regulasi sektor keuangan menjadi semakin penting. Juda menyebut Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sebagai salah satu kerangka kelembagaan untuk memantau stabilitas sistem keuangan dan mengoordinasikan respons terhadap berbagai risiko.

"Ketahanan bukan berarti tidak adanya guncangan. Ketahanan adalah kemampuan kita untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik," kata Juda.

Topik Menarik