Bursa Asia Cenderung Melemah, Investor Cermati Timur Tengah dan Yield Obligasi

Bursa Asia Cenderung Melemah, Investor Cermati Timur Tengah dan Yield Obligasi

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 24 September 2026 - 09:44
share

IDXChannel - Bursa saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026), di tengah tekanan kenaikan imbal hasil obligasi dan investor yang mencermati ketegangan di Timur Tengah serta perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks MSCI Asia ex-Jepang turun 0,64 persen. Di Jepang, indeks Nikkei 225 justru menguat 1,73 persen, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1,2 persen dan menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga bulan.

Pergerakan pasar terjadi setelah pasar obligasi global kembali berada dalam tekanan.

Saat pasar Tokyo dibuka setelah libur tiga hari, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 30 tahun, mengikuti aksi jual tajam di pasar Treasury AS pada perdagangan sebelumnya.

Imbal hasil JGB 10 tahun naik 8 basis poin menjadi 3,06 persen, level yang belum terlihat sejak Agustus 1996.

Sementara itu, imbal hasil JGB tenor 30 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,12 persen.

Di AS, imbal hasil Treasury 10 tahun bertahan di 5,11 persen setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada perdagangan sebelumnya.

Kenaikan yield obligasi turut membebani sentimen terhadap aset berisiko, seiring investor memperkirakan bank-bank sentral masih perlu mempertahankan sikap ketat untuk menghadapi tekanan inflasi.

"Pasar saham benar-benar mulai menunjukkan tanda-tanda tertekan di bawah beban imbal hasil obligasi yang terus meningkat. Dalam lingkungan risk-off seperti ini, dolar AS masih tampaknya mendapat dukungan sebagai aset safe haven," kata Kepala Strategi Valas National Australia Bank Ray Attrill dalam sebuah podcast, seperti dikutip Reuters.

Investor juga menanti sejumlah pidato pejabat bank sentral dan rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk klaim pengangguran, untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga ke depan.

Gubernur Federal Reserve Michael Barr mengatakan pada Rabu (23/9) bahwa kenaikan suku bunga terbaru merupakan bagian dari upaya menyesuaikan kembali biaya pinjaman dan mengisyaratkan bahwa kenaikan lebih lanjut mungkin diperlukan.

Pasar juga mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Presiden Fed Beth Hammack pada Kamis.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar.

Harga minyak bertahan di level tinggi meski mulai terkoreksi dari kenaikan sebelumnya, setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan eskalasi.

Brent turun 1 persen menjadi USD102,05 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,74 persen menjadi USD91,48 per barel.

Di sisi lain, harga emas spot naik 0,35 persen menjadi USD4.301,89 per troy ons.

Sementara itu, investor juga mencermati pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping.

Pertemuan tersebut diperkirakan belum menghasilkan terobosan besar, tetapi Washington dan Beijing berpeluang memperpanjang gencatan tarif yang telah berlangsung selama 11 bulan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan tersebut. (Aldo Fernando)

Topik Menarik