Selain Anak Krakatau, Abu Vulkanik Gunung Lewotolok Ganggu Penerbangan

Selain Anak Krakatau, Abu Vulkanik Gunung Lewotolok Ganggu Penerbangan

Ekonomi | sindonews | Rabu, 9 September 2026 - 11:05
share

Sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok kembali mengganggu operasional penerbangan di Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah penutupan Bandara Wunopito, Lewoleba, diperpanjang hingga Kamis (10/9). Kondisi tersebut membuat konektivitas penerbangan melalui bandara tersebut masih belum dapat beroperasi demi menjaga keselamatan penerbangan.

“Informasi terkait status operasional bandara akan diperbarui mengikuti kondisi aktual dan aspek keselamatan penerbangan,” kata AirNav Indonesia dalam keterangannya terkait perkembangan operasional Bandara Wunopito dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga:Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Terekam 28 Detik

AirNav Indonesia melalui pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) menyatakan Bandara Wunopito (WATW) masih berstatus closed. Penutupan diperpanjang mulai Rabu, 9 September 2026 pukul 07.18 WITA hingga estimasi Kamis, 10 September 2026 pukul 07.00 WITA.

Perpanjangan penutupan tersebut tercantum dalam NOTAM C1145/26 NOTAMR C1134/26 yang menggantikan pemberitahuan sebelumnya, yakni C1134/26 NOTAMR C1106/26. Penutupan dilakukan karena sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok masih berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat dan mengganggu kinerja sejumlah sistem penerbangan sehingga kondisi ruang udara perlu terus dipantau.

Baca Juga:Ahli Sebut Erupsi Gunung Api Murni Dinamika Tektonik Bumi, Bukan Rekayasa Teknologi

AirNav Indonesia terus memantau perkembangan kondisi ruang udara serta pergerakan sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok. AirNav juga berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan penerbangan untuk memastikan informasi mengenai kondisi ruang udara dan pelayanan navigasi penerbangan dapat disampaikan secara tepat waktu.

Dengan perpanjangan tersebut, Bandara Wunopito belum dapat melayani penerbangan setidaknya hingga pukul 07.00 WITA pada Kamis, 10 September 2026. Status operasional bandara masih dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan hasil pemantauan aspek keselamatan penerbangan.

Topik Menarik