BRICS Kian Tinggalkan Dolar AS, 65 Transaksi Gunakan Mata Uang Lokal
Negara-negara anggota BRICS semakin mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan lintas batas dengan memperluas penggunaan mata uang lokal. Sebuah laporan menyebutkan hanya sekitar 35 perdagangan antarnegara BRICS yang masih diselesaikan menggunakan dolar AS, sedangkan 65 lainnya menggunakan mata uang lokal.
"Aliansi BRICS telah menggunakan dolar AS hanya untuk 35 perdagangan lintas batas, sementara 65 transaksi lainnya dilakukan menggunakan mata uang lokal," kata Direktur Pranan Consulting Pradip Dhir dalam laporan yang dikutip Watcher Guru dari EuroSchool India pada Sabtu (22/6/2026).
Baca Juga:Indonesia Lanjutkan Aksi Dedolarisasi, Transaksi Mata Uang Lokal Tembus Rp144 Triliun
Perubahan tersebut merupakan bagian dari agenda dedolarisasi BRICS yang semakin serius sejak 2022. Negara-negara anggota mendorong penggunaan mata uang masing-masing dalam pembayaran perdagangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menekan biaya transaksi kegiatan ekspor dan impor.
China dan Rusia menjadi salah satu contoh utama penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Kedua negara secara intensif menggunakan yuan dan rubel untuk penyelesaian transaksi sejak 2022, termasuk dalam perdagangan energi dan komoditas.India juga menggunakan kombinasi rupee, rubel, dan dirham dalam sejumlah transaksi dengan sesama anggota BRICS. Sementara itu, Iran semakin memanfaatkan yuan China dalam transaksi perdagangan internasional, terutama karena menghadapi berbagai sanksi ekonomi dari AS.
Penggunaan mata uang lokal juga meluas dalam perdagangan energi. Arab Saudi, yang menjadi anggota BRICS, disebut telah menerima yuan dalam sejumlah transaksi minyak, sejalan dengan upaya China memperluas penggunaan mata uangnya dalam perdagangan internasional.China bahkan meningkatkan kesepakatan perdagangan berbasis mata uang lokal sejak 2024. Strategi tersebut dinilai memperkuat posisi mata uang negara-negara BRICS sekaligus mengurangi kebutuhan menggunakan dolar AS dalam transaksi antarnegara anggota.
Baca Juga:Iran Gabung Bank BRICS, Makin Yakin Tinggalkan Dolar Bersama Negara Berkembang
Perkembangan tersebut menunjukkan agenda dedolarisasi menjadi salah satu upaya BRICS membangun sistem perdagangan yang lebih beragam. Penggunaan mata uang lokal memungkinkan negara anggota mengurangi paparan terhadap fluktuasi dolar AS dan risiko yang muncul dari ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi mata uang tersebut.
Namun, agenda dedolarisasi BRICS menghadapi tantangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump kembali menjabat. Ancaman pengenaan tarif hingga 100 terhadap negara-negara yang mendorong pengurangan penggunaan dolar AS disebut membuat sejumlah anggota BRICS menahan langkah dedolarisasi secara lebih agresif.
Meski demikian, tren penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan BRICS menunjukkan upaya mengurangi dominasi dolar AS belum sepenuhnya berhenti. Dengan semakin banyaknya transaksi yang diselesaikan menggunakan yuan, rubel, rupee, dan mata uang lokal lainnya, BRICS berupaya membangun alternatif pembayaran lintas batas yang lebih beragam.








