Perang Iran Kuras Cadangan Minyak AS di Bawah 300 Juta Barel, Terendah sejak 1983
Cadangan minyak mentah strategis Amerika Serikat (AS) turun ke level terendah dalam lebih dari empat dekade, yakni di bawah 300 juta barel. Penurunan tersebut terjadi ketika pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan pelepasan minyak mentah ke pasar untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang dengan Iran.
"Pasar menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan kebijakan moneter yang sensitif. Ketidakpastian terkait Selat Hormuz mempertahankan risiko kenaikan harga minyak dan inflasi, sementara data inflasi AS pada Rabu dapat mengubah ekspektasi terhadap keputusan Federal Reserve pada September," kata Kepala Riset Pasar FXTM Lukman Otunuga dikutip dari Business Insider, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga:Manfaatkan Inflasi Tinggi dan Krisis Fiskal, AS Gunakan Taktik 'Catur' Serang Iran
Menurut data Departemen Energi AS, cadangan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) berkurang 6 juta barel dalam sepekan menjadi 298,7 juta barel. Data Energy Information Administration menunjukkan cadangan tersebut untuk pertama kalinya turun di bawah 300 juta barel sejak 1983.
AS mengawali 2026 dengan cadangan sekitar 415 juta barel. Namun, persediaan terus berkurang setelah pemerintahan Trump melepaskan lebih banyak minyak mentah ke pasar sebagai langkah untuk mengimbangi gangguan pasokan yang terjadi akibat perang dengan Iran.
Sementara itu, pasar sebelumnya berharap Selat Hormuz segera kembali dibuka setelah Trump dan sejumlah pejabat AS menyampaikan pernyataan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri gangguan tersebut berpotensi tercapai. Namun, Trump pada akhir pekan mengatakan AS tidak keberatan membiarkan dampak ekonomi perang mendorong Iran kembali ke meja perundingan.Baca Juga:Warning Jenderal Iran Jika AS Luncurkan Invasi Darat: Kami Akan Lumpuhkan Tentara Mereka!Perkembangan tersebut kembali mendorong harga minyak pada perdagangan Senin karena pelaku pasar mulai meragukan Selat Hormuz akan segera dibuka. Harga minyak Brent naik sekitar 5 menjadi USD87,82 per barel, sedangkan minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) meningkat 5 menjadi USD82,28 per barel.
Pemerintah Terbitkan Aturan Bebas Bea Masuk untuk Impor Senjata dan Perlengkapan Pertahanan Negara
Data inflasi konsumen AS pada Juli menjadi perhatian pasar untuk mengukur tekanan harga yang berasal dari perang. Inflasi Juni lebih rendah dari perkiraan ketika harga energi melemah seiring harapan tercapainya kesepakatan damai, tetapi biaya energi kembali meningkat pada Juli setelah ketegangan geopolitik memanas.
Peneliti dan pengamat energi memperingatkan penurunan persediaan minyak global dapat memicu babak baru krisis energi. Meski demikian, harga minyak sejauh ini belum kembali mencapai level tertinggi selama perang yang berada di sekitar USD120 per barel, meskipun gangguan terhadap arus pasokan minyak global masih berlangsung.









