Harga Minyak Jatuh 5 Persen usai Trump Tunda Serangan ke Iran
IDXChannel - Harga minyak dunia anjlok pada perdagangan Senin (3/8/2026) pagi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menunda serangan baru terhadap Iran.
Keputusan tersebut memicu optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari lima bulan semakin dekat.
Melansir dari AP News, prospek meredanya konflik membuka peluang bagi kapal-kapal pengangkut minyak untuk kembali melintasi Teluk Persia.
Selama pertempuran berlangsung, banyak kapal tanker minyak dan produk energi lainnya tertahan di kawasan tersebut akibat terganggunya jalur pelayaran.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sekitar 5 persen menjadi USD80,79 per barel pada Senin pagi.
Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, juga melemah 5 persen ke level USD83,87 per barel.
Harga minyak telah bergerak sangat fluktuatif sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.
Soal Lari Kena Pajak, Ini Penjelasan DJP
Sepanjang musim semi, harga minyak beberapa kali menembus level USD100 per barel di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan global.
Lonjakan harga minyak tersebut kemudian mendorong kenaikan harga bahan bakar, termasuk bensin dan avtur, serta meningkatkan biaya distribusi barang yang menggunakan solar.
Dampaknya, masyarakat harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar kendaraan maupun tiket pesawat.
Di sejumlah negara, pasokan bahan bakar bahkan sempat menipis sehingga memicu kebijakan pembatasan penjualan dan penutupan sementara sekolah maupun kantor pemerintahan.
Di sisi lain, perusahaan minyak dan gas menikmati lonjakan keuntungan selama periode tersebut.
Tingginya harga minyak, bensin, dan solar terjadi karena distribusi minyak dunia terganggu ketika kapal-kapal tanker tidak dapat melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berbatasan dengan Iran.
Dalam unggahannya di Truth Social pada Minggu, Trump mengatakan bahwa "kerangka kesepakatan" tengah disusun untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia, yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Selama beberapa bulan terakhir, Iran secara efektif menutup akses ke jalur tersebut di tengah konflik yang berlangsung.
Sementara itu, mengutip The New York Times, kelompok produsen minyak OPEC+ pada Minggu juga menyetujui kenaikan produksi sekitar 188.000 barel per hari. Langkah tersebut, menurut OPEC+, dilakukan untuk mendukung stabilitas pasar minyak global. (Aldo Fernando)









