Selat Hormuz Makin Horor, Harga Minyak Dunia Cetak Rekor Terparah Sepanjang Juli

Selat Hormuz Makin Horor, Harga Minyak Dunia Cetak Rekor Terparah Sepanjang Juli

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 1 Agustus 2026 - 14:55
share

Harga minyak mentah dunia ditutup melesat tajam pada perdagangan Jumat 31 Juli 2026, sekaligus mengunci kinerja bulanan terkuatnya sejak Maret lalu. Lonjakan ini dipicu oleh kepanikan pasar atas laporan terbaru dari Iran yang menyebutkan sejumlah kapal tanker terpaksa putar balik dan gagal melintasi Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi pasokan minyak global.

Berdasarkan data perdagangan, minyak mentah berjangka Brent ditutup naik USD1,09 atau 1,2 menjadi USD90,12 per barel. Sementara itu minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkerek USD1,08 atau 1,3 ke posisi USD84,67 per barel.

Sepanjang bulan Juli, Brent mencetak lonjakan fantastis 24, sedangkan WTI meroket 21. Angka ini menjadi alarm merah bagi pemulihan ekonomi global yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Horor di Selat Hormuz, Jalur Alternatif Terancam

Psikologi pasar saat ini sedang diuji oleh ketegangan geopolitik yang tidak kunjung usai. Perang di Iran yang pecah sejak 28 Februari, telah melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz-jalur yang sebelumnya membawa seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia. Disrupsi ini memangkas jutaan barel output Timur Tengah per harinya.

Baca Juga: Sempat Turun Beruntun, Harga Minyak Dunia Bakal OTW Melonjak 20?

Laporan terbaru dari Kantor Berita Fars menyebutkan Garda Revolusi Iran telah menghentikan paksa dua kapal tanker yang mencoba transit di Selat Hormuz. Sementara empat kapal tanker lainnya terpaksa mengubah haluan. Data pelacakan kapal Kpler mengonfirmasi bahwa lalu lintas di jalur tersebut kini sangat minim.

Situasi kian mencekam setelah sekutu Iran, kelompok Houthi di Yaman, mengancam kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab di ujung selatan Laut Merah. Hal ini membahayakan jalur ekspor alternatif yang biasa digunakan oleh Arab Saudi dan produsen regional lainnya.

Baca Juga: Trump Ancam Iran, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 7 Tembus USD90 per Barel

"Pasar telah berhenti memperdagangkan isu perang (secara umum) dan mulai memperdagangkan data pelayaran riil," tegas Ole Hvalbye, analis pasar di SEB Research.

Stok AS Kritis di Tengah Ancaman Serangan Baru

Faktor fundamental domestik AS ikut menyulut kenaikan harga, dimana data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah komersial AS minggu lalu merosot ke level terendah sejak 2018. Gejolak tidak hanya terjadi di Timur Tengah, ketika risiko geopolitik meluas ke wilayah lain.

Suez juga ikut terancam, ketika serangan drone memicu kebakaran di dua kapal gas di pelabuhan Damietta, Mesir, meningkatkan ancaman terhadap pelayaran melalui Terusan Suez. Sementara itu militer Ukraina mengklaim telah menghantam kilang minyak Volgograd milik Rusia, menyebabkan kebakaran besar di fasilitas tersebut.

Ramalan Harga Minyak Mentah: Masih Akan Terus Mendaki

Meskipun harga tinggi mulai memukul konsumsi -dengan permintaan AS turun lebih dari 3,5 pada bulan Mei ke level terendah sejak Maret 2025-, namun para ahli memprediksi tren bullish belum akan berakhir.

Survei Reuters terhadap 31 ekonom dan analis menunjukkan ekspektasi bahwa harga minyak akan naik lebih jauh tahun ini. Rata-rata harga minyak Brent diproyeksi berada di level USD85,22 per barel pada tahun 2026, naik dari prakiraan bulan Juni sebesar USD84,50.

Dengan menipisnya stok AS dan chokepoint global yang tersumbat, dunia kini bersiap menghadapi era harga energi tinggi yang baru.

Topik Menarik