Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel

Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel

Ekonomi | sindonews | Minggu, 26 Juli 2026 - 08:56
share

Dua kapal tanker raksasa pembawa minyak mentah Arab Saudi ke China dan India mendadak berputar balik di Laut Merah setelah dihantam serangan milisi Houthi. Di hari yang sama, ekspor minyak Kazakhstan merosot akibat serangan terhadap terminal Laut Hitam.

Dua gangguan logistik masif di dua jalur pelayaran vital minyak dunia dalam sehari tersebut direspons cepat oleh raksasa perbankan investasi global, Goldman Sachs. Dalam laporan riset terbarunya, tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven mengambil sikap tegas.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?

Mereka mempertahankan proyeksi harga minyak Brent di level USD80 per barel untuk Kuartal IV 2026. Meski angka acuan tidak diubah, Goldman memberikan peringatan keras bahwa risiko lonjakan harga (upside risk) kini meningkat jauh lebih tinggi!

Dua Jalur Maritim Terkunci, 4 Juta Barel Minyak Terjebak

Analis Goldman Sachs menyoroti bahwa gangguan simultan di Selat Bab el-Mandeb (Laut Merah) dan terminal Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) di Laut Hitam menciptakan tekanan pasokan yang kian nyata. Deklarasi blokade maritim oleh Houthi terhadap Arab Saudi berpotensi memutus ekspor dari pelabuhan Yanbu (Laut Merah) yang saat ini menyalurkan sekitar 5 juta barel per hari.

Proyeksi Dasar vs Skenario Terburuk: Bisakah Minyak Tembus USD145 per Barel?

Goldman Sachs mempertahankan angka acuan USD80 per barel untuk Brent dan USD76 (WTI) hingga akhir tahun 2026 dengan asumsi ketegangan geopolitik akan mereda secara bertahap. Selain itu lemahnya permintaan dari China, Korea Selatan, dan Timur Tengah turut menahan harga agar tidak langsung melonjak.

Namun jika asumsi meredanya konflik tersebut meleset, Goldman menyiapkan skenario ekstrem. "Jika Selat Hormuz terganggu secara signifikan hingga 2027, Brent bisa melampaui USD120 pada Q4 2026. Dan jika gangguan meluas secara bersamaan ke Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, ada tambahan lonjakan USD25 di atas skenario tersebut," papar tim analis Goldman Sachs.

Membaca Harga Minyak Sepanjang 2026

Bahkan dalam skenario dasar sekalipun, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak akan tetap perkasa sepanjang Juli dan Agustus 2026 akibat stok minyak global yang menyusut ke level terendah tahun ini. Tiga faktor utama pembentuk benteng harga tersebut adalah, pertama adanya penurunan produksi Timur Tengah. Pasokan fisik terganggu akibat gesekan militer.

Baca Juga: AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel

Lalu ada lonjakan konsumsi musim panas, lonjakan aktivitas perjalanan menambah permintaan hingga 0,8 juta barel per hari pada Q3. Terakhir pemberhentian rilis cadangan strategis, dimana negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan kini berhenti melepas Strategic Petroleum Reserve (SPR) dan beralih membeli minyak untuk mengisi ulang cadangan nasional mereka.

Proyeksi 2027: Surplus Minyak Tak Bikin Harga Anjlok

Untuk tahun 2027, Goldman memproyeksikan surplus minyak global sebesar 3,2 juta barel per hari dengan harga Brent rata-rata USD75 dan WTI USD70 per barel, namun dengan asumsi Hormuz tetap buka. Meskipun terdapat surplus masif yang biasanya memicu penurunan harga (price collapse), Goldman menilai harga tidak akan jatuh ke bawah USD60-an.

Hal ini disebabkan oleh aksi penimbunan cadangan strategis pemerintah dunia sebesar 1,2 juta bpd serta biaya produksi minyak shale AS yang secara alami membatasi penurunan harga.

Bagi investor dan pengamat ekonomi global, Goldman Sachs menyimpulkan satu hal: keseimbangan risiko pasar minyak saat ini cenderung mengarah ke atas, bukan ke bawah. Apakah harus bersiap menghadapi dampak potensi lonjakan harga BBM dunia di akhir tahun ini?.

Topik Menarik