Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Fuad Bawazier menyatakan, keyakinannya terhadap langkah-langkah terkait kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah saat ini. Terbukti lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings menegaskan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2.
S&P Global Ratings secara resmi menegaskan kembali (affirmed) peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. S&P juga menyematkan outlook Stabil pada peringkat jangka panjang tersebut.
Banyak pengamat dalam negeri meragukan penilaian tersebut, mengingat daya beli masyarakat sedang tertekan hebat dan industri manufaktur terus melambat. Namun mantan Menkeu Fuad Bawazier, menilai penilaian S&P tersebut sangat objektif dan berbasis fakta lapangan, bukan sekadar pujian kosong.
Baca Juga: S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepercayaan Global Dinilai Masih KuatMenurut Fuad, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini memang masih dalam kondisi yang relatif kokoh. Masalah terbesar Indonesia bukanlah di sektor belanja (spending) yang kini sudah sangat diawasi ketat oleh media dan masyarakat, melainkan pada lemahnya penerimaan negara dan kebocoran devisa ekspor yang selama ini menguap ke luar negeri.
Untuk mengatasi penyakit kronis ini, kebijakan baru di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menerapkan sistem ekspor satu pintu pada komoditas strategis dinilai menjadi kunci utama yang diapresiasi positif oleh S&P."Ke mana hasil tambang yang luar biasa besar itu? Kenapa tidak dinikmati rakyat sehingga daya beli terus tertekan? Jawabannya karena devisa hasil ekspornya diparkir di luar negeri, lalu diputar kembali ke sini seolah-olah sebagai investasi asing dari Singapura," ungkap Fuad blak-blakan dalam Podcast TO THE POINT AJA, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Purbaya Cerita Momen Bertemu S&P untuk Pertahankan Peringkat Utang RI
Fuad Bawazier menyoroti kontradiksi besar yang terjadi pada struktur ekonomi Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Pada masa Orde Baru, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu konsisten berada di rata-rata 7 selama 30 tahun.
Viral Harga Pertalite Rp18.040 per Liter Lebih Mahal dari Pertamax, Ini Penjelasan Pertamina
Namun kini untuk menyentuh angka 5 saja ekonomi Indonesia harus megap-mega), padahal sektor pertambangan telah dikeruk habis-habisan hingga membuat hutan gundul.
3 Gol Besar Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Sebagai solusi radikal, pemerintah saat ini menerapkan pilot project politik ekspor satu pintu untuk tiga komoditas andalan, yaitu sawit, batubara, dan ferro-alloy. Kebijakan yang mencakup sekitar 24 dari total ekspor resmi Indonesia ini diproyeksikan Fuad akan mencetak 3 gol besar sekaligus bagi masa depan fiskal Indonesia.1. Mengamankan Cadangan Devisa & Menstabilkan Nilai Tukar Rupiah
Selama ini, cadangan devisa Indonesia cenderung tipis karena para eksportir memarkir dolar mereka di luar negeri. Akibatnya, nilai tukar rupiah sangat rapuh dan mudah dipermainkan spekulan.Dengan sistem satu pintu, devisa wajib masuk ke sistem perbankan dalam negeri. Pasokan dolar yang melimpah secara otomatis akan menstabilkan moneter dan mempertebal cadangan devisa nasional."Kalau ini sudah gol (ekspor satu pintu), dampaknya besar. Nah buktinya apa? negara seperti Saudi Arabia yang hanya mengandalkan ekspor Aramco untuk minyak bisa buat rial enggak pernah digoyang terhadap dolar dan stabil," terangnya.
2. Mendongkrak Tax Ratio dan Penerimaan Negara
Fuad Bawazier juga memberikan catatan bahwa sistem satu pintu akan menutup rapat celah kecurangan ekspor seperti manipulasi invoice (under-invoicing) dan pengalihan harga (transfer pricing). Selama ini data ekspor Indonesia kerap tidak sinkron dengan data impor negara tujuan karena adanya penyelundupan administratif.Jika celah ini ditutup, penerimaan pajak akan melonjak drastis (di mana intensifikasi dan ekstensifikasi saat ini saja sudah menyumbang ekstra hampir Rp75 triliun). Dengan kas negara yang tebal, pemerintah memiliki ruang fiskal yang besar untuk menyalurkan dana transfer daerah, dana desa, sekaligus membayar utang tanpa perlu menambah beban utang baru.
3. Mengembalikan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi yang Dinikmati Rakyat
Ketika devisa hasil bumi menetap di dalam negeri dan dikelola secara transparan, likuiditas nasional akan membaik. Investasi riil akan bergerak di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak daya beli yang sempat terpuruk, dan mengarahkan kembali pertumbuhan ekonomi Indonesia ke jalur potensialnya di atas 5.Ekspor Satu Pintu Indonesia DipujiS&P
Kebijakan ekspor satu pintu juga mendapatkan respons positif dari dunia internasional. S&P Global Ratings menilai kebijakan pemerintah membentuk lembaga ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) berpotensi meningkatkan pendapatan negara dan ekspor.Namun, lembaga pemeringkat global itu mengingatkan agar perubahan kebijakan dan implementasinya tidak menimbulkan ketidakpastian yang dapat mengganggu kepercayaan investor.
Pandangan tersebut disampaikan bersamaan dengan keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia di level BBB atau investment grade untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek. Dalam pengumuman yang dirilis pada Senin (13/7/2026), S&P juga mempertahankan prospek (outlook) Indonesia di level stabil.Salah satu faktor yang menjadi perhatian S&P adalah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) sebagai lembaga yang mengelola ekspor komoditas strategis secara terpusat. Menurut S&P, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan pendapatan pemerintah sekaligus memperkuat kinerja ekspor Indonesia.
S&P menilai kebijakan pemerintah tentang hilirisasi dan penegakan kontrol yang lebih besar terhadap sektor mineral dan sumber daya berpotensi meningkatkan pertumbuhan pendapatan pemerintah dan pendapatan ekspor.
Meski demikian, S&P mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada konsistensi implementasi. Lembaga itu menilai perubahan kebijakan yang terlalu cepat atau ketidakpastian dalam pelaksanaannya berpotensi menekan kepercayaan investor serta memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan.
“Laju perubahan kebijakan dan ketidakpastian mengenai implementasinya dapat memengaruhi kepercayaan investor dan membebani pasar mata uang dan keuangan,” jelas S&P.








