Tekanan Makro Menguat, Saham Ritel Defensif Bisa Jadi Pilihan
IDXChannel – Prospek sektor ritel Indonesia diperkirakan menghadapi tantangan yang lebih besar seiring perubahan kondisi makroekonomi.
Pelemahan daya beli masyarakat, depresiasi rupiah, dan tingginya suku bunga diperkirakan menekan kinerja emiten ritel dalam dua tahun ke depan.
Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian dalam riset bertajuk Shift to Defensives as Macro Intensifies yang diterbitkan pada 7 Juli 2026 menurunkan rekomendasi sektor ritel menjadi netral.
Menurut Christofer, tekanan terhadap sektor ritel kini datang dari tiga arah sekaligus.
Daya beli masyarakat terus melemah sehingga membatasi belanja konsumen, nilai tukar rupiah yang terdepresiasi meningkatkan biaya barang impor serta eksposur valas.
Sementara, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) membuat biaya pendanaan lebih mahal sekaligus mengurangi minat masyarakat berbelanja melalui fasilitas pembiayaan.
Kondisi tersebut mendorong Sucor memangkas proyeksi laba emiten ritel untuk 2026-2027, yang kemudian diikuti dengan penurunan target harga dan penyesuaian rekomendasi pada beberapa saham.
Christofer menilai pelemahan daya beli menjadi tantangan terbesar bagi industri ritel saat ini. Inflasi pangan yang masih tinggi dan depresiasi rupiah menggerus pendapatan riil masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
Akibatnya, konsumen diperkirakan semakin selektif dalam berbelanja, memilih produk yang lebih murah, serta menunda pembelian barang yang tidak mendesak.
Pola tersebut berpotensi menekan jumlah pengunjung toko maupun nilai transaksi per pelanggan sehingga pemulihan pertumbuhan penjualan di gerai yang sama (same-store sales growth/SSSG) menjadi lebih sulit tercapai.
Atas dasar itu, Sucor menurunkan asumsi pertumbuhan SSSG maupun ekspansi gerai di seluruh emiten yang berada dalam cakupan risetnya agar lebih mencerminkan prospek permintaan yang kini lebih berhati-hati.
Di sisi profitabilitas, tekanan diperkirakan datang secara bersamaan.
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya pengadaan barang sekaligus memicu potensi kerugian selisih kurs.
Pada saat yang sama, kenaikan suku bunga memperbesar beban keuangan, sementara struktur biaya tetap membuat margin laba semakin mudah tergerus ketika pertumbuhan pendapatan melambat.
Menurut Christofer, tekanan tersebut paling besar dirasakan oleh emiten ritel diskresioner, seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) karena memiliki eksposur terhadap ketiga faktor tersebut sekaligus.
Sebaliknya, operator jaringan minimarket PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dinilai lebih defensif.
Kedua emiten tersebut ditopang oleh porsi produk lokal yang tinggi, kemampuan meneruskan kenaikan harga kepada konsumen (pass-through pricing), serta posisi neraca yang relatif kuat karena memiliki kas bersih.
Secara keseluruhan, Sucor memangkas estimasi laba emiten dalam cakupan risetnya rata-rata sebesar 9 persen untuk 2026 dan 16 persen untuk 2027.
Penurunan terbesar diberikan kepada peritel diskresioner yang dinilai menghadapi tekanan margin lebih besar dan prospek permintaan yang semakin lemah.
Meski demikian, Christofer tetap mempertahankan pandangan positif terhadap peritel kebutuhan pokok.
Sucor menjadikan saham AMRT dan MIDI sebagai pilihan utama karena dinilai memiliki permintaan yang lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi, fundamental keuangan yang lebih kuat, serta model bisnis yang lebih mampu bertahan di tengah pelemahan konsumsi masyarakat. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









