Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19

Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 10 Juli 2026 - 20:38
share

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan permintaan minyak global akan mengalami kontraksi pada 2026, menjadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Pelemahan konsumsi dipicu terganggunya pasokan energi akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menghambat arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

"Permintaan minyak global akan turun satu juta barel per hari pada 2026, menjadi kontraksi tahunan pertama sejak 2020," demikian laporan bulanan IEA yang dirilis hari ini, dikutip dari Euronews, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga:Imbas AS Serang Iran: Qatar, Bahrain, dan Kuwait Panik

IEA menjelaskan penurunan tersebut memang jauh lebih kecil dibandingkan saat pandemi Covid-19, ketika permintaan minyak dunia sempat merosot sekitar delapan juta barel per hari. Namun, kondisi saat ini mencerminkan besarnya dampak ekonomi global dari terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.

Menurut IEA, pelemahan permintaan terjadi tidak merata dan paling besar dirasakan negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi, terutama untuk kebutuhan bahan baku petrokimia seperti nafta dan liquefied petroleum gas (LPG). Di tengah kondisi tersebut, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran 76 dolar AS per barel atau sekitar 6 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik meningkat pada akhir Februari, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar 72 dolar AS per barel.Di sisi pasokan, produksi minyak global meningkat 4,1 juta barel per hari pada Juni menjadi 98,8 juta barel per hari setelah sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka. Meski demikian, volume produksi tersebut masih sekitar 9,4 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum konflik pecah.

IEA juga mencatat ekspor minyak dari kawasan Teluk naik 6,5 juta barel per hari menjadi 16,1 juta barel per hari karena sebagian pengiriman dialihkan dari Selat Hormuz. Kendati demikian, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata sebelum perang yang mencapai sekitar 24 juta barel per hari. Pada saat yang sama, persediaan minyak global mulai meningkat setelah sebelumnya terus menyusut akibat gangguan pasokan.

Dalam proyeksinya, IEA mengasumsikan gencatan senjata antara AS dan Iran dapat dipertahankan sehingga aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pulih secara bertahap. Dengan asumsi tersebut, pasokan minyak dunia diperkirakan masih menyusut 3,7 juta barel per hari pada 2026 sebelum kembali meningkat 7,5 juta barel per hari pada tahun berikutnya, sehingga pasar berpotensi kembali mengalami surplus.

Baca Juga:Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia

Meski demikian, IEA mengingatkan prospek pasar energi global masih dibayangi risiko meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah. Serangan Iran terhadap sejumlah kapal dagang diikuti operasi militer AS ke puluhan sasaran di Iran dan pencabutan izin ekspor minyak negara tersebut, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke Bahrain dan Kuwait serta pengetatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Data Kpler menunjukkan jumlah kapal tanker yang melintasi selat itu turun menjadi hanya 13 unit pada Rabu, dari rata-rata 33 kapal per hari pada pekan sebelumnya, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.

Topik Menarik