Rupiah Melemah ke Level Rp18.128, Konflik AS-Iran dan Inflasi AS Jadi Biang Keroknya

Rupiah Melemah ke Level Rp18.128, Konflik AS-Iran dan Inflasi AS Jadi Biang Keroknya

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 9 Juli 2026 - 20:08
share

IDXChannel - Mata uang rupiah ditutup melemah tajam 114 poin ke level Rp18.128 per dolar Amerika Serikat sore ini, Kamis (9/7/2026), setelah sebelumnya sempat terkoreksi hingga 115 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.014.

Pelemahan ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif global, terutama eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Ancaman serangan baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran demi mengamankan Selat Hormuz telah memicu ketidakpastian pasar, bahkan menyebabkan perusahaan asuransi perang menyarankan penghentian sementara pelayaran di jalur vital tersebut.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa ketegangan geopolitik yang memanas menjadi beban berat bagi mata uang garuda. Ia menilai situasi di Selat Hormuz telah menciptakan kekhawatiran global yang berimbas pada penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

"Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran segera setelah serangan Rabu malam. Serangan baru terhadap Iran yang bertujuan untuk menjaga Selat Hormuz yang penting tetap terbuka untuk lalu lintas, beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah 'berakhir'," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (9/7).

Selain isu geopolitik, Ibrahim mengungkapkan bahwa pasar kini tengah mencerna arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, yang menunjukkan sikap kurang akomodatif dalam risalah rapat bulan Juni. 

Kekhawatiran akan inflasi AS yang tetap tinggi di atas target 2 persen membuat peluang kenaikan suku bunga lanjutan semakin terbuka, yang otomatis memperkuat posisi mata uang dolar AS di pasar global.

"Risalah rapat Fed bulan Juni, yang dirilis pada hari Rabu, kurang lunak daripada yang dikhawatirkan pasar, dengan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi yang kaku, sebuah tren yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun, terutama jika tekanan harga menunjukkan sedikit tanda-tanda pendinginan," ujar Ibrahim.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyebutkan bahwa sentimen konsumen Indonesia yang menurun selama dua bulan berturut-turut turut menekan daya tahan rupiah. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang melandai ke level 117,8 pada Juni 2026, dari 120,9 pada Mei, menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai memudar.

"Sementara itu, sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional," kata Ibrahim.

Ia menambahkan soal percepatan realisasi APBN 2026 yang kini difokuskan pada delapan agenda prioritas nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), juga menjadi perhatian pasar terkait implikasinya terhadap defisit fiskal dan stabilitas ekonomi.

"Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar, dimana APBN Tahun 2026 tetap dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional," imbuhnya.

Ibrahim lantas memprediksi bahwa volatilitas rupiah masih akan berlanjut pada perdagangan esok hari. Ia mengingatkan para pelaku pasar untuk tetap waspada terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang bisa berubah sewaktu-waktu.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah tajam 114 point dan sebelumnya sempat melemah 115 point di level Rp18.128 dari penutupan sebelumnya di level Rp18.014. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.120- Rp18.180," tutur Ibrahim.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik