Sektor Properti Kehilangan Tenaga di Tengah Bunga Tinggi

Sektor Properti Kehilangan Tenaga di Tengah Bunga Tinggi

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 2 Juli 2026 - 06:54
share

IDXChannel - Sektor properti Indonesia menghadapi tekanan baru setelah kenaikan suku bunga mulai menggerus daya beli dan memperlambat permintaan hunian.

Biaya kredit yang lebih mahal, pengetatan pembiayaan, serta melemahnya kepercayaan konsumen membuat prospek pemulihan sektor ini semakin terbatas setelah sempat mendapat dorongan dari kondisi makro yang mendukung sepanjang 2025.

Analis Sucor Sekuritas Cheryl Jennifer Wang dalam riset yang terbit pada 30 Juni 2026 menurunkan rekomendasi sektor properti menjadi underweight dari sebelumnya neutral.

Sucor menilai faktor pendukung yang sebelumnya menopang sektor properti telah berbalik arah, terutama setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah.

Kenaikan suku bunga tersebut berdampak langsung terhadap biaya kredit pemilikan rumah (KPR) dan pembiayaan, sementara permintaan mulai melemah.

Kondisi ini membuat Sucor memangkas proyeksi laba 2026-2027 untuk sebagian besar emiten properti dalam cakupan analisanya, menurunkan target harga, serta memperkirakan sektor properti tertinggal dari IHSG dalam 12 bulan ke depan.

Tekanan permintaan terlihat dari survei penjualan properti residensial Bank Indonesia (SHPR) yang turun 25,7 persen secara tahunan pada kuartal I-2026. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak pandemi Covid-19 dan membalikkan pemulihan singkat yang terjadi pada kuartal IV-2025.

Selain penjualan, sentimen konsumen juga mulai melemah. Indeks kepercayaan konsumen turun dari level tertinggi Januari 2026 sebesar 127 menjadi 121 pada Mei 2026.

Di sisi lain, pertumbuhan harga properti residensial (IHPR) melambat menjadi di bawah 1 persen secara tahunan, menunjukkan terbatasnya kemampuan pengembang untuk menaikkan harga.

Tekanan sektor properti juga tercermin dari memburuknya kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) sektor real estat naik menjadi 3,22 persen pada April 2026, melampaui level puncak pandemi sebesar 3,18 persen.

Kondisi ini menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap kemampuan pembayaran di sektor properti.

Sucor Sekuritas mencatat sekitar 70 persen hingga 80 persen penjualan properti primer masih bergantung pada pembiayaan KPR.

Dengan suku bunga yang lebih tinggi dan standar kredit bank yang semakin ketat, likuiditas konsumen menjadi lebih terbatas sehingga peluang pemulihan permintaan dalam waktu dekat ikut berkurang.

Sucor Sekuritas memangkas proyeksi laba 2026-2027 terutama untuk pengembang yang lebih sensitif terhadap permintaan dan memiliki leverage tinggi seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Sementara revisi terhadap emiten berbasis aset kuat seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) relatif lebih terbatas.

Secara keseluruhan, Sucor Sekuritas memperkirakan laba pengembang besar atau Big 4 turun sekitar 19 persen secara tahunan pada 2026.

Kenaikan tingkat imbal hasil bebas risiko juga membuat valuasi sektor harus dikoreksi, sehingga diskon terhadap nilai aset bersih (RNAV) dinilai tidak lagi cukup menjadi katalis ketika momentum laba melemah.

Di tengah tekanan tersebut, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) menjadi pilihan utama Sucor dan satu-satunya saham properti dengan rekomendasi beli (buy). PWON dinilai lebih defensif berkat kontribusi pendapatan berulang dari aset komersial.

Sementara CTRA, BSDE, SMRA, PANI, dan CBDK memperoleh rekomendasi tahan (hold). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik