Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
PT Wulan Cipta Sejati (PT WCS) menampilkan konsep ekosistem pertanian modern terintegrasi berbasis teknologi presisi dan data dalam ajang Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS KTNA) 2026 di Gorontalo.
Partisipasi perusahaan melalui branding Aerotron Industries tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong modernisasi sektor pertanian nasional yang tidak hanya bertumpu pada alat dan mesin pertanian, tetapi juga integrasi teknologi, data, dan penguatan sumber daya manusia.
"Bagi kami, pertanian modern tidak bisa lagi dilihat secara terpisah antara alat, pengguna, distribusi, teknologi, data, dan layanan purnajual. Semuanya harus dibangun sebagai satu ekosistem," ujar Vice President Pengembangan Bisnis PT WCS Danung Wicaksono dalam keterangan pers, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga:Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Dalam pameran tersebut, PT WCS memperkenalkan berbagai solusi agritech, antara lain drone pertanian Aerotron Agra30, teknologi pembenihan Aerotron PowerGro SP-300 Seed Germinator, DOJO Pumps, serta traktor YTO ESK454 dan YTO NLX1054. Perusahaan juga menghadirkan drone simulator dan tractor simulator untuk meningkatkan kompetensi operator secara interaktif dan aman.Menurut Danung, kebutuhan petani saat ini tidak hanya terbatas pada alat pertanian yang tangguh, tetapi juga teknologi yang mudah digunakan, didukung pelatihan, dan mampu menghasilkan keputusan berbasis data secara lebih akurat.
PT WCS juga menggandeng sejumlah mitra strategis seperti YTO International Limited, CV Palupi Agri Berdikari (PARI), Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), Agrilabs.id, hingga Ilssang Industry Co., Ltd dari Korea Selatan.
Salah satu kolaborasi yang menjadi perhatian ialah kerja sama dengan Agrilabs.id dalam pengembangan pertanian presisi berbasis data dan kecerdasan buatan (AI). Melalui kemitraan tersebut, penggunaan drone dan alat mekanisasi dapat diintegrasikan dengan analisis nutrisi tanaman, rekomendasi pemupukan, hingga prediksi hasil panen.
“Pertanian presisi tidak bisa hanya berhenti pada alat. Drone, traktor, pompa, dan mesin pertanian akan jauh lebih bernilai ketika penggunaannya didukung oleh data yang baik,” kata Danung.Baca Juga:Kadis Pertanian Merauke: CSR dan Optimasi Lahan Berhasil Tingkatkan Produksi dan Stabilkan Harga Beras
Sementara itu, Vice President Agritech & Engineering PT WCS Febry Hardyono menegaskan teknologi pertanian yang dikembangkan perusahaan harus mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Menurut dia, teknologi tidak cukup hanya terlihat canggih, tetapi juga harus mudah digunakan, dipahami operator, serta memberikan manfaat langsung bagi proses produksi pertanian.
Melalui partisipasi di PENAS KTNA 2026, PT WCS berharap pengembangan pertanian Indonesia ke depan semakin ditopang integrasi teknologi, mekanisasi, data, dan kesiapan sumber daya manusia guna meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor pertanian nasional.








