Menilik Agenda Reformasi yang Diusung Kevin Warsh, Ketua The Fed Pengganti Powell
IDXChannel - Lima belas tahun setelah meninggalkan Federal Reserve (The Fed) lantaran menentang program pembelian obligasi besar-besaran yang kini membuat neraca membengkak hingga USD6,7 triliun, Kevin Warsh kembali ke bank sentral AS sebagai pemimpin dengan agenda reformasi luas. Namun, kemungkinan tidak mudah diwujudkan dalam waktu yang cepat.
Melansir Reuters, Kamis (14/5/2026), Senat AS mengonfirmasi Warsh sebagai Ketua The Fed untuk masa jabatan empat tahun melalui pemungutan suara yang sebagian besar mengikuti garis partai. Pelantikan resminya dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Kritiknya terhadap bank sentral mencakup berbagai hal, mulai dari cara The Fed memantau inflasi, kesediaannya menyelamatkan pasar, hingga strategi komunikasinya.
Agenda reformasi yang diusulkan Warsh tidak hanya reformasi teknis pada analisis ekonomi, tetapi juga perubahan sensitif dalam cara The Fed berkomunikasi dengan pasar keuangan dan publik, yang sebelumnya telah dibahas dan dinilai sulit diubah dengan cepat.
Presiden AS Donald Trump beberapa kali berselisih dengan Ketua The Fed sebelumnya, Jerome Powell. Awalnya Trump menuntut penurunan suku bunga, lalu memperluas tekanannya melalui upaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook serta penyelidikan pidana oleh Departemen Kehakiman terhadap Powell, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai serangan terhadap independensi bank sentral. Kasus Cook masih bergulir di Mahkamah Agung AS, sementara penyelidikan terhadap Powell telah ditutup.
Masa jabatan delapan tahun Powell sebagai ketua berakhir pada Jumat, namun dia memutuskan tetap berada di Dewan Gubernur The Fed hingga proses penyelidikan benar-benar selesai, sebagian untuk melindungi institusi tersebut dari potensi serangan hukum lanjutan.
Tantangan Warsh
Tantangan langsung Warsh adalah menghadapi konflik antara tuntutan Trump untuk memangkas suku bunga. Namun, data ekonomi yang belum mendukung langkah tersebut. Tingkat pengangguran AS masih relatif rendah di 4,3 persen, sementara inflasi masih berada di atas target 2 persen dan cenderung meningkat.
Dalam rapat kebijakan pertamanya pada Juni, keberhasilan Warsh bisa jadi hanya sekadar menahan koleganya di Federal Open Market Committee agar tidak mendorong kenaikan suku bunga.
Pada rapat akhir April, tiga pejabat The Fed sudah menyuarakan perlunya bahasa yang mengarah ke potensi kenaikan suku bunga, dan tren ini bisa menguat seiring meluasnya tekanan inflasi.
Saat Powell ditunjuk oleh Trump pada 2018, butuh sekitar enam bulan sebelum presiden mulai mengkritiknya secara terbuka. Kini, investor bahkan tidak memperkirakan penurunan suku bunga sebelum 2028.
Dalam berbagai pidato dan wawancara, Warsh mengemukakan beberapa alasan mengapa suku bunga masih bisa turun. Dia mengatakan peningkatan produktivitas dari kecerdasan buatan dapat menekan harga, pengurangan kepemilikan obligasi jangka panjang oleh The Fed dapat menjadi alasan penurunan suku bunga jangka pendek, serta metode pengukuran inflasi alternatif menunjukkan kenaikan harga yang lebih lambat.
Para mantan staf dan pejabat The Fed memperkirakan langkah awal Warsh adalah melakukan evaluasi internal, diikuti perdebatan di FOMC, lalu kemungkinan perubahan kebijakan seperti aturan cadangan bank atau penggunaan indikator inflasi alternatif.
Warsh juga ingin mengubah beberapa alat komunikasi utama, seperti Summary of Economic Projections (SEP) yang memuat “dot plot” proyeksi suku bunga. Meski ada ketidakpuasan terhadap SEP, alat ini dan konferensi pers tetap dianggap penting dalam membentuk ekspektasi publik.
Dalam survei Brookings Institution, hampir semua responden menilai konferensi pers pasca-rapat sangat berguna, dan lebih dari separuh mengatakan hal yang sama untuk SEP dan dot plot. Mantan Presiden The Fed St. Louis, James Bullard, bahkan menyebut konferensi pers sebagai “standar internasional” yang sulit diubah.
Perdebatan Mulai Menguat
Di sisi lain, sejumlah gagasan Warsh juga mulai menuai kontra-argumen. Misalnya, ide pengurangan neraca dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga, masih diragukan.
Kemudian, pandangan tentang dampak AI terhadap inflasi juga diperdebatkan, terutama soal waktu dan risikonya.
Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, mengemukakan skenario bahwa ekspektasi terhadap AI justru bisa mendorong konsumsi lebih cepat, meningkatkan inflasi, dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga.
(NIA DEVIYANA)










