Trump Ancam Blokade Iran Berbulan-bulan, Harga Minyak Melonjak USD126 per Barel

Trump Ancam Blokade Iran Berbulan-bulan, Harga Minyak Melonjak USD126 per Barel

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 1 Mei 2026 - 19:18
share

Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus USD126 per barel setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ancang-ancang blokade Iran berlangsung berbulan-bulan. Lonjakan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global akibat memanasnya konflik di Kawasan Teluk.

"Runtuhnya pembicaraan antara AS dan Iran, bersama dengan laporan bahwa Presiden Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, membuat pasar kehilangan harapan atas pemulihan cepat aliran minyak," ujar Kepala Strategi Komoditas ING Warren Patterson dikutip dari The Telegraph, Jumat (1/5/2026).

Baca Juga:OPEC+ Bergejolak, Akankah Rusia Ikuti Jejak Uni Emirat Arab?

Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 13 dalam 24 jam dan mencapai level tertinggi sejak 2022. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, pasar energi terus bergejolak akibat blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran serta respons Teheran yang memperketat akses pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar 20 pasokan minyak global. Penutupan hampir total jalur tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi optimisme terhadap kemungkinan tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat.

Meski sempat menyentuh USD126 per barel, harga minyak Brent kemudian terkoreksi ke kisaran USD114 per barel pada perdagangan sore. Namun, pasar tetap dibayangi kekhawatiran karena Gedung Putih disebut siap mempertahankan blokade hingga Iran menghentikan produksi minyaknya.

Baca Juga:Bohongi AS, Ilmuwan Harvard Justru Bantu China Membangun 'Tentara Super'

Trump menyebut blokade laut dinilai lebih efektif dibandingkan serangan langsung terhadap fasilitas energi Iran. Pemerintah AS berharap tekanan ekonomi tersebut dapat memaksa Iran membatasi aktivitas produksi minyaknya yang saat ini menghadapi keterbatasan kapasitas penyimpanan.

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran baru terhadap risiko resesi global dan tekanan stagflasi. Ekonom Paul Krugman menilai pasar sebelumnya terlalu meremehkan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap ekonomi dunia.

Sementara, ahli strategi pasar Deutsche Bank Jim Reid mengatakan krisis energi berkepanjangan telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara utama. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global akan bertahan lebih lama di tengah kenaikan biaya energi dan bahan baku industri.

Pelaku pasar kini mengantisipasi kemungkinan harga minyak kembali mendekati rekor tertinggi USD147 per barel seperti pada 2008 apabila krisis pasokan di Teluk terus berlanjut. Iran bahkan sebelumnya memperingatkan harga minyak dunia dapat menembus USD200 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama.

Topik Menarik