Pasar Energi Kembali Terguncang, Harga Minyak Dunia Hari Ini Tembus USD107 per Barel
Harga minyak dunia kembali mendidih pada perdagangan Senin (27/4/2026) pagi di Asia. Lonjakan ini terjadi setelah rencana putaran kedua perundingan damai antara Amerika Serikat atau AS dan Iran dilaporkan kolaps, memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan energi jangka panjang.
Minyak mentah Brent, sebagai patokan global, melonjak 2,2 menjadi USD107,70 per barel. Sementara itu minyak mentah standar AS (WTI) naik 2,1 ke level USD96,40 per barel. Sejauh ini Brent telah melonjak lebih dari 10 hanya dalam satu minggu terakhir.
Ketegangan memuncak setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pembatalan pengiriman tim negosiasi ke Pakistan. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut pengiriman delegasi ke Islamabad hanya membuang-buang waktu di tengah ketidakpastian kepemimpinan di Teheran.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Buntu, Harga Minyak Dunia Kembali Memanas Tembus USD106 per Barel
"Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan. Ada perselisihan internal dan kebingungan yang luar biasa dalam kepemimpinan Teheran. Tidak ada yang tahu siapa yang memimpin, termasuk mereka sendiri!" tulis Trump (25/4/2026).
Trump menambahkan dengan nada menantang bahwa AS memegang kendali penuh atas situasi ini. "Kita memiliki semua kartu, mereka tidak punya! Jika mereka ingin bicara, yang harus mereka lakukan hanyalah menelepon!" lanjutnya.
Diplomasi 'Pintu Belakang' Iran dan Oman
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi mengindikasikan bahwa Teheran lebih memilih berdiskusi dengan tetangga regionalnya. Araghchi mengungkapkan adanya diskusi intensif dengan Oman untuk membahas keamanan transit di Selat Hormuz.Baca Juga: Blokade Selat Hormuz, Pendapatan Minyak Arab Saudi Anjlok Rp1,6 Triliun per Hari
"Fokus kami mencakup cara-cara untuk memastikan transit yang aman demi keuntungan semua tetangga dan dunia. Tetangga kami adalah prioritas," tulis Araghchi melalui media sosialnya.
Kenaikan harga minyak dunia pada April 2026 ini bukan terjadi tanpa alasan. Beberapa faktor utama yang mencekik pasar energi global di antaranya karena blokade Selat Hormuz. Jalur ini adalah urat nadi energi dunia, lantaran sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati selat sempit ini. Sejak perang pecah pada akhir Februari, jalur ini efektif tertutup bagi kapal yang dianggap Iran sebagai musuh sebagai balasan atas serangan udara AS-Israel.
Meskipun Trump sempat memperpanjang gencatan senjata minggu lalu, ketidakmampuan kedua pihak untuk bertemu di meja perundingan menciptakan supply shock di pasar. Investor bertaruh bahwa pasokan tidak akan kembali normal dalam waktu dekat.
Ketegangan ini juga memicu negara-negara seperti UEA dan China mulai menjajaki transaksi minyak menggunakan mata uang selain Dolar (seperti Yuan), yang menciptakan ketidakpastian pada sistem keuangan petrodolar tradisional.
Ditambah banyak negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, kini menghadapi tekanan inflasi hebat karena kenaikan biaya transportasi dan logistik yang dipicu oleh harga bahan bakar.










